Viral! Bupati Marah di Tengah Laut, Pemandu Surfing Asal Loteng Di Duga Disuruh Pulang

Avatar of lpkpkntb
Viral! Bupati Marah di Tengah Laut, Pemandu Surfing Asal Loteng Di Duga Disuruh Pulang
Viral! Bupati Marah di Tengah Laut, Pemandu Surfing Asal Loteng Di Duga Disuruh Pulang. (Dok. Screenshot media sosial).

NTB. Sebuah video viral di TikTok memperlihatkan Bupati Lombok Timur tengah berada di atas perahu menegur seseorang yang diduga merupakan pemandu atau pelaku wisata surfing asal Lombok Tengah. Video ini mengundang reaksi tajam dari warganet, terutama soal sikap dan komunikasi sang bupati terhadap aktivitas wisata di kawasan Ekas yang dikenal sebagai salah satu spot surfing terbaik di dunia.

Dalam video berdurasi singkat tersebut, terdengar jelas suara Bupati yang mengatakan:

“Kamu Lombok Tengah ya? Kenapa kamu parkir di sini? Mana tamunya? Bawa pulang tamunya sana. Di mana dia nginap? Bawa pulang. Nggak boleh parkir di sini. Bilang sama temannya, nggak boleh di sini.”

Pernyataan itu dianggap sebagian warganet sebagai bentuk pelarangan aktivitas surfing atau pengusiran pelaku wisata dari wilayah Lombok Timur hanya karena berasal dari kabupaten tetangga.

Komentar-komentar kritis pun bermunculan. Salah satunya datang dari akun TikTok bernama @HK, yang menyebut bahwa alih-alih menegur, seharusnya pemerintah memperbaiki infrastruktur wisata di Lotim agar bisa bersaing dan menjadi destinasi unggulan.

Daripada memarahi orang surfing lebih baik perbaiki infrastruktur wisata di Lotim. Di Loteng (Lombok Tengah) semua spot ditata dan difasilitasi, makanya turis betah.

Akun @kyuuuuuuu menimpali, “Bagusin fasilitas dan infrastruktur sekitarnya pak, biar banyak tamu nginap dan nyaman di sana…

Sorotan juga datang dari Ketua SAPANA NTB (Sahabat Pariwisata Nusantara), Rudy Lombok. Ia mengkritik keras cara penyampaian Bupati yang dinilai bisa berdampak buruk bagi citra pariwisata daerah:

“Sangat disayangkan jika seorang kepala daerah menegur aktivitas wisata seperti surfing dengan cara seperti itu. Padahal itu aset daerah. Justru seharusnya pemimpin jadi fasilitator dan promotor, bukan membuat pelaku wisata merasa tidak diterima di daerahnya sendiri,” ujarnya.

Menurut Rudy, sektor pariwisata sangat sensitif terhadap komunikasi publik. Setiap pernyataan pejabat, apalagi yang viral, dapat membentuk persepsi buruk yang merugikan jangka panjang.

Rudy kemudian menyarankan beberapa langkah strategis yang menurutnya sebaiknya dilakukan oleh kepala daerah:

  1. Fokus pada sinergi antar daerah, bukan eksklusivitas wilayah.

  2. Fasilitasi dialog antar pelaku pariwisata lintas kabupaten, untuk menyusun aturan bersama yang adil.

  3. Libatkan masyarakat lokal dalam pengelolaan wisata, tanpa menutup pintu bagi pelaku usaha dari luar daerah.

  4. Utamakan citra Lombok sebagai destinasi ramah dan terbuka, karena konflik seperti ini bisa merusak kepercayaan wisatawan.

” Pariwisata adalah milik bersama, bukan milik satu kabupaten. Sudah saatnya semua pihak duduk bersama dan membangun Lombok secara menyeluruh – bukan secara terpisah,” tegas Rudy.

Warganet lainnya juga menyoroti pentingnya kolaborasi antardaerah. Akun Pramuwisata Lombok menulis, “Viralkan supaya Bapak Bupati ini melek tentang pariwisata. Kalau memang ingin tempatnya berkembang, harus bisa bersinergi dengan pelaku wisata dari mana pun, asal tamu datang dan menginap di NTB.

Teks overlay dalam video bahkan menyindir:

“Spot surfing ini penting dimanfaatkan oleh pengelola wisata sekitar untuk menarik minat wisatawan menginap di Ekas dan sekitarnya.”

Kasus ini menjadi sorotan karena dianggap mencerminkan masalah lebih besar: kurangnya pemahaman dan strategi yang tepat dari pemerintah dalam mengelola dan mempromosikan potensi pariwisata lokal.

Saat ini belum ada pernyataan resmi dari Pemkab Lombok Timur terkait video tersebut terutama di unggah melalui tiktok, namun para pelaku wisata berharap akan ada klarifikasi dan pembahasan yang lebih terbuka demi menjaga keharmonisan dan kemajuan pariwisata NTB secara menyeluruh

Namun, Warganet dan pelaku wisata berharap kejadian ini menjadi refleksi bagi pemerintah daerah, agar lebih inklusif, bersinergi, dan mendukung pelaku wisata dalam membangun Ekas sebagai destinasi unggulan dunia.