Lombok, – Keluhan keras kembali disuarakan para sopir transportasi wisata di NTB.
Ketua SAPANA NTB, Rudy Lombok, bersama sopir senior lainnya, Bohari, menegaskan bahwa persoalan ranting pohon yang menjulur ke jalan, lampu penerangan yang mati, dan jalan berlubang menjadi “jebakan maut” yang mengancam keselamatan para wisatawan dan pengemudi, terutama di jalur wisata utama.

JEBAKAN MAUT DI JALUR WISATA NTB:
“Kami minta kerja cepat dan nyata, bukan sekadar rencana atau wacana. Setiap pertemuan soal kemajuan pariwisata, masalah ini selalu kami sampaikan, tapi kenyataannya tetap lamban,” ungkap Rudy.
Baca:300 Lebih Peserta Hadiri Halal Bihalal Sapana, Sinergi Pariwisata NTB Menguat
Bohari, salah satu sopir berpengalaman yang telah lama bekerja di jalur wisata NTB, juga menambahkan, “Kami telah berulang kali memberi contoh dengan menebang ranting dan membersihkan jalan yang menghalangi, tapi sampai sekarang pihak dinas seolah tak peduli. Kami bukan pegawai dinas, tapi kami yang bekerja langsung di lapangan, dan kami harap pemerintah bisa lebih responsif!”
Para sopir menilai bahwa pihak dinas terkait seharusnya bisa bertindak cepat. “Kalau pun dikerjakan, tangan pembuat kebijakan tak perlu kotor. Cukup tunjuk, lalu tindak. Tapi kenapa begitu lamban?” tanya Rudy geram.
Keluhan paling parah datang dari jalur menuju Kabupaten Lombok Utara (KLU), terutama dari Klui hingga Teluk Nare. Sudah bertahun-tahun para driver secara swadaya menebang ranting dan membersihkan jalur yang mengganggu, namun tidak juga menjadi perhatian serius dari dinas terkait.
“Setiap kali kami akan tebas ranting, kami harus minta izin dan menunjukkan foto/video pohon yang menghalangi. Padahal ini jelas di depan mata mereka! Kami heran, kenapa mereka tidak respect terhadap kondisi lapangan,” tambah Rudy.
Rencananya, pada tanggal 15 Mei 2025, para sopir dari Team Tebang Pohon akan kembali turun langsung ke lapangan melakukan aksi bersih jalur wisata dari Klui sampai Teluk Nare. Ini dilakukan demi keselamatan dan kenyamanan tamu wisata yang menggunakan bus.
“Kami mewakili teman-teman sopir meminta agar ranting yang menghalangi dan pohon yang membahayakan segera dikategorikan sebagai URGEN. Ini bukan kerjaan kami, tapi kami terpaksa lakukan karena kami peduli!” tegas Rudy.
Keluhan ini mencerminkan keresahan mendalam di kalangan pelaku lapangan pariwisata NTB. Pemerintah daerah diharapkan tidak lagi menutup mata dan segera menunjukkan kepedulian nyata terhadap infrastruktur dan keselamatan jalur wisata.
