Agama  

Benarkah Orang yang Sudah Meninggal Bisa Melihat Kita dari Alam Kubur? ini Penjelasan Para Ulama

Avatar of lpkpkntb
Benarkah Orang yang Sudah Meninggal Bisa Melihat Kita dari Alam Kubur? ini Penjelasan Para Ulama
Photo: Ilustrasi

lpkpkntb.com – Untuk kita renungkan bersama, pada hakikatnya kematian adalah bagian dari takdir Allah SWT yang pasti terjadi pada setiap makhluk. Tidak ada satu pun yang mampu menghindar darinya. Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an:

“Kullu nafsin dzā`iqatul maut” – “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati.” (QS. Al-Qur’an, Ali Imran: 185)

Ayat ini menegaskan bahwa kematian adalah sunnatullah, hukum Allah yang berlaku bagi seluruh makhluk; manusia, jin, hewan, tua, muda, lelaki, perempuan, sehat ataupun sakit. Semua akan kembali kepada-Nya. Allah juga berfirman:

“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji‘ūn” – “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (QS. Al-Baqarah: 156)

Ternyata Manusia Punya 9 Roh, Bukan Satu! Ini Fungsi dan Perannya

Kematian bukanlah akhir dari segalanya, melainkan perpindahan dari alam dunia menuju alam barzakh. Di sanalah ruh menanti hari kebangkitan. Lalu muncul pertanyaan yang sering menggelisahkan hati: apakah orang yang sudah meninggal masih merindukan keluarganya? Apakah mereka mengetahui keadaan orang yang masih hidup?

Hubungan Ruh dengan Dunia

Dalam kajian para ulama, dijelaskan bahwa alam barzakh adalah alam yang berbeda dengan alam dunia. Kita tidak dapat mengukurnya dengan logika duniawi. Namun, syariat memberi petunjuk bahwa ada bentuk hubungan tertentu antara orang yang telah wafat dan yang masih hidup.

Dikutip dari NU Online, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah KH Achmad Chalwani Nawawi menyampaikan bahwa orang yang telah meninggal dapat mengetahui sebagian keadaan orang yang masih hidup. Beliau mengutip hadis yang terdapat dalam kitab Syarhush Shudur bi Syarhi Halil Mauta fil Qubur karya Imam Jalaluddin as-Suyuthi.

Dalam hadis tersebut disebutkan:

“Tu’radhu a‘mālukum fid-dunya ilā ‘asāirikum wa aqribā-ikum minal amwāt…”
Amal-amal kalian diperlihatkan kepada kerabat dan saudara kalian yang telah meninggal dunia. Jika mereka melihat amal baik, mereka bergembira. Jika melihat keburukan, mereka berdoa kepada Allah agar diberi petunjuk dan tidak dicabut nyawa sebelum bertaubat.

Hadis ini menunjukkan adanya keterkaitan ruh dengan amal keluarga yang masih hidup. Orang yang wafat dalam keadaan beriman dan saleh diberi keistimewaan oleh Allah untuk mengetahui sebagian amal keturunannya. Jika melihat kebaikan, mereka bersuka cita. Jika melihat keburukan, mereka bersedih dan mendoakan.

Apakah Mereka Merindukan Kita?

Dalam Islam, rindu bukan sekadar emosi, melainkan bagian dari kasih sayang. Jika di dunia saja orang tua sangat mencintai anaknya, maka di alam barzakh, cinta itu tidak serta merta hilang. Bahkan, Sayyid Abdullah bin Alawi al-Haddad dalam kitabnya menyatakan:

“Ihtimāmul amwāti lil ahyā-i asyaddu min ihtimāmil ahyā-i lil amwāti.”
Perhatian orang yang telah wafat kepada yang masih hidup lebih besar daripada perhatian orang yang masih hidup kepada yang telah wafat.

Ini bukan berarti mereka bebas berinteraksi seperti di dunia, tetapi menunjukkan adanya bentuk kepedulian ruh terhadap keluarganya. Terutama bagi ruh orang-orang saleh; para nabi, wali, dan ulama.

Sebagaimana dijelaskan dalam banyak riwayat, ruh orang beriman berada dalam kenikmatan kubur. Dalam hadis riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa ruh mukmin seperti burung yang terbang bebas di surga, memakan buah-buahannya hingga hari kiamat.

Ziarah Kubur dan Doa

Karena adanya hubungan tersebut, Islam menganjurkan ziarah kubur. Rasulullah SAW bersabda:

“Dulu aku melarang kalian berziarah kubur. Sekarang berziarahlah, karena itu mengingatkan kalian pada akhirat.” (HR. Muslim)

Ziarah bukan untuk meminta kepada mayit, tetapi untuk mendoakan mereka. Doa anak saleh termasuk amal yang terus mengalir bagi orang tua yang telah wafat. Dalam hadis riwayat Muslim disebutkan:

“Apabila anak Adam meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.”

Ini menunjukkan betapa kuatnya hubungan spiritual antara yang hidup dan yang wafat. Doa kita sampai kepada mereka, dan menurut sebagian riwayat, mereka pun mengetahui siapa yang mendoakan.

Tentang Tanda-Tanda Kehadiran Ruh

Di tengah masyarakat, beredar keyakinan bahwa orang yang telah meninggal dapat memberi tanda melalui mimpi, aroma tertentu, atau gangguan elektronik. Sebagian situs seperti Higher Perspective menyebutkan lima tanda komunikasi ruh.

Namun dalam perspektif akidah Islam, kita harus berhati-hati. Tidak semua pengalaman spiritual dapat dijadikan dalil. Islam mengajarkan bahwa alam gaib adalah wilayah yang hanya diketahui secara pasti melalui wahyu, yaitu Al-Qur’an dan hadis sahih.

Mimpi tentang orang yang telah meninggal bisa saja benar, karena mimpi terbagi menjadi tiga: mimpi dari Allah (ru’ya shalihah), mimpi dari setan, dan mimpi dari pikiran sendiri. Jika seseorang bermimpi bertemu orang tuanya yang telah wafat dan mendapatkan pesan kebaikan, maka selama tidak bertentangan dengan syariat, hal itu bisa menjadi penghibur hati. Namun tidak boleh dijadikan dasar hukum.

Adapun fenomena elektronik mati-nyala atau sensasi tertentu, tidak ada dalil kuat dalam Islam yang membenarkannya sebagai komunikasi ruh. Kita tidak boleh meyakini sesuatu tanpa dasar syar’i. Allah berfirman:

“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. Al-Isra: 36)

Hikmah di Balik Kematian

Kematian adalah nasihat paling nyata. Ia memutus angan-angan panjang dan mengingatkan bahwa dunia hanya sementara. Rasulullah SAW bersabda:

“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kenikmatan (kematian).” (HR. Tirmidzi)

Mengingat kematian bukan untuk menakut-nakuti, tetapi agar kita memperbaiki amal. Jika benar amal kita diperlihatkan kepada orang tua dan leluhur yang telah wafat, maka betapa malunya kita jika mereka melihat keburukan kita.

Sebaliknya, betapa bahagianya mereka jika melihat anak cucunya rajin shalat, berpuasa, bersedekah, dan menjaga akhlak. Maka setiap kebaikan yang kita lakukan bukan hanya untuk diri kita sendiri, tetapi juga membahagiakan ruh mereka.

Penutup

Pada akhirnya, pertanyaan apakah orang yang sudah meninggal merindukan keluarganya, dapat dijawab dengan keyakinan bahwa dalam batas yang Allah izinkan, mereka mengetahui sebagian keadaan kita dan mendoakan kebaikan bagi kita. Namun hubungan itu bukanlah hubungan fisik seperti di dunia, melainkan hubungan ruhani yang berada dalam ketentuan Allah.

Tugas kita sebagai yang masih hidup adalah memperbanyak doa, sedekah atas nama mereka, menyambung silaturahmi yang dahulu mereka jaga, dan melanjutkan amal saleh yang pernah mereka rintis.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang husnul khatimah, dikumpulkan kembali bersama keluarga dalam surga-Nya kelak.

Selamat menunaikan ibadah puasa 1447 H/2026. Wallahu a’lam bish-shawab.