MATARAM — Persiapan Nusa Tenggara Barat menyambut Pekan Olahraga Nasional (PON) XXII 2028 mulai diarahkan pada penguatan komunikasi dan konsolidasi antarelemen olahraga. Gubernur NTB Dr. H. Lalu Muhammad Iqbal, M.Hub.Int., bersama Wali Kota Mataram Dr. H. Mohan Roliskana, S.Sos., M.H., membangun kesepahaman mengenai pentingnya memperkuat pembinaan sekaligus meningkatkan prestasi olahraga daerah.
Pertemuan tersebut menjadi ruang bagi pemerintah daerah dan insan olahraga untuk membicarakan langkah bersama menuju agenda olahraga nasional yang akan berlangsung di NTB pada 2028.
Iqbal dan Mohan berpandangan bahwa persiapan menuju PON tidak hanya membutuhkan program kerja, tetapi juga konsolidasi yang kuat, komunikasi terbuka, serta keterlibatan berbagai pemangku kepentingan.
Kesepahaman itu mengemuka dalam pertemuan yang berlangsung di Dapur Sasak Mataram, Jumat (25/9/2026) malam. Sejumlah tokoh olahraga hadir dalam agenda tersebut, termasuk para Ketua KONI kabupaten/kota serta puluhan pimpinan cabang olahraga di NTB. Dilansir politikalntb.
Pertemuan berlangsung dalam suasana akrab. Acara diawali dengan santap malam sebelum dilanjutkan dengan forum pembahasan bersama. Forum tersebut dibuka oleh Ketua KONI Kota Mataram, H. Firadz Pariska.
Di hadapan para insan olahraga, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menyampaikan bahwa kehadirannya dalam pertemuan tersebut tidak semata-mata dalam kapasitas sebagai gubernur.
“Saya hadir bukan sebagai gubernur, tetapi sebagai rakyat NTB yang ingin olahraga di NTB terus mengalami peningkatan. Saya kira, semangat itu jugalah yang mendorong Bapak/Ibu semua untuk hadir malam ini,” ucap Iqbal.
Dalam pertemuan itu, Iqbal juga menyinggung dinamika yang terjadi dalam proses Musyawarah Provinsi (Musprov) KONI NTB beberapa waktu sebelumnya. Ia diketahui sempat mendaftarkan diri sebagai salah satu kandidat Ketua KONI NTB periode 2026-2030.
Iqbal menjelaskan bahwa langkah tersebut sebelumnya dilakukan setelah melalui komunikasi dan diskusi dengan sejumlah tokoh olahraga maupun kepala daerah di NTB. Menurut dia, keputusan tersebut sejak awal didorong oleh keinginan untuk ikut berkontribusi terhadap kemajuan olahraga daerah.
Namun, setelah melalui proses perenungan dan pembahasan lebih lanjut, Iqbal memutuskan untuk tidak meneruskan keinginannya maju sebagai Ketua KONI NTB. Ia menyebut kepentingan olahraga NTB menjadi salah satu pertimbangan utama dalam mengambil keputusan tersebut.
“Setelah melalui perenungan dan diskusi, malam ini saya sampaikan kepada Bapak/Ibu semua bahwa saya memutuskan untuk tidak lagi meneruskan hajat untuk menjadi Ketua KONI NTB. Ini sebagai permakluman. Terima kasih atas bantuan Bapak/Ibu semua,” terang Iqbal.
Setelah menyampaikan keputusan tersebut, Iqbal mengajak seluruh insan olahraga NTB untuk mengarahkan perhatian pada agenda yang lebih besar. Dalam kesempatan itu, ia menyebut Mohan Roliskana sebagai salah satu sosok yang memiliki pengalaman dalam dunia olahraga dan kepemimpinan daerah.
“Di sebelah saya, ada sahabat baik saya, Pak Mohan. Kami tentu intens berdiskusi, saya kira banyak hal bisa selesai bersama beliau. Dan saya kira beliau dan Bapak/Ibu semua memahami apa yang saya maksud,” papar Iqbal.
Iqbal kemudian menyampaikan harapannya agar Mohan bersedia mengambil bagian dalam upaya memperkuat KONI NTB periode 2026-2030. Ia menyebut pengalaman Mohan dalam organisasi olahraga maupun pemerintahan sebagai bagian dari pertimbangan tersebut.
Ajakan itu mendapat sambutan dari para pegiat olahraga yang hadir. Tepuk tangan dan seruan semangat terdengar dari ruang pertemuan. Suasana tersebut menjadi bagian dari pembahasan mengenai upaya membangun kebersamaan menjelang agenda olahraga nasional 2028.
Menurut Iqbal, PON XXII 2028 membutuhkan kerja sama yang kuat antara berbagai pihak. Di satu sisi terdapat kebutuhan meningkatkan prestasi olahraga, sedangkan di sisi lain NTB juga harus memastikan kesiapan sebagai daerah penyelenggara PON.
Dalam kapasitasnya sebagai gubernur, Iqbal akan memiliki peran dalam struktur Pengurus Besar (PB) PON. Sementara KONI NTB akan menjalankan fungsi pembinaan dan pengembangan atlet serta cabang olahraga.
Ia menggambarkan hubungan PB PON dan KONI seperti dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Keduanya memiliki peran masing-masing, tetapi tetap berada dalam satu tujuan besar untuk menyukseskan PON sekaligus meningkatkan prestasi olahraga NTB.
“Saya yakin dan percaya, Bapak/Ibu semua bersepakat atas konsensus yang kita bangun bersama malam ini. Dan kita semua akan mengawal ini,” kata Iqbal.
Mohan Roliskana kemudian menyampaikan pandangannya mengenai arah pembangunan olahraga NTB. Ia memiliki pengalaman memimpin KONI Kota Mataram selama dua periode dan pernah terlibat dalam kepemimpinan sejumlah cabang olahraga.
Pengalaman tersebut membuat Mohan menilai pembangunan olahraga tidak cukup hanya mengandalkan kebijakan dan program. Menurut dia, keberhasilan pembinaan juga membutuhkan kebersamaan, komunikasi dan kesediaan seluruh pihak untuk berjalan dalam arah yang sama.
Mendapat kepercayaan dan harapan dari Iqbal, Mohan mengatakan bahwa pembangunan olahraga NTB perlu dilakukan dalam suasana yang teduh dan guyub.
Ia menyebut dinamika yang muncul menjelang Musprov KONI NTB sebelumnya sebagai bagian dari proses organisasi. Menurut Mohan, perbedaan yang telah terjadi tidak seharusnya menjadi beban dalam menata olahraga NTB ke depan.
“Bagi saya, dinamika itu bagian dari proses. Yang terpenting, setelah ini kita kembali bersama. Kita lupakan yang sudah lewat dan kita tatap masa depan olahraga NTB,” ujar Mohan.
Mohan juga menegaskan bahwa proses kepemimpinan di KONI tidak semestinya meninggalkan polarisasi di kalangan insan olahraga. Energi seluruh pihak, menurut dia, perlu diarahkan kembali pada tujuan yang lebih besar, yakni membangun olahraga NTB agar terus berkembang dan menghasilkan prestasi.
“Kita tidak boleh terjebak pada siapa mendukung siapa. Yang harus kita pikirkan adalah bagaimana olahraga NTB ke depan,” katanya.
Untuk mencapai tujuan tersebut, Mohan menilai kepemimpinan KONI ke depan harus dibangun melalui semangat kebersamaan. KONI, kata dia, tidak dapat bekerja sendirian karena pembinaan olahraga melibatkan pemerintah daerah, KONI kabupaten/kota, cabang olahraga, dunia usaha, masyarakat, serta berbagai unsur olahraga lainnya.
“KONI tidak bisa bekerja sendiri. Pemerintah juga tidak bisa bekerja sendiri. Semua harus berada dalam satu garis ikhtiar untuk memajukan olahraga NTB,” ujar Mohan.
Menurut Mohan, komunikasi antara kepala daerah dan pimpinan KONI juga menjadi salah satu unsur penting dalam membangun pembinaan olahraga.
“Hubungan kepala daerah dengan KONI harus harmonis. Harus ada komunikasi, ada keselarasan, dan ada tujuan yang sama,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa keselarasan tidak berarti menghilangkan perbedaan pendapat. Ruang untuk menyampaikan pandangan yang berbeda tetap diperlukan, sepanjang komunikasi dapat dijaga dan penyelesaiannya tetap diarahkan pada kepentingan olahraga.
“Boleh berbeda pandangan, tetapi jangan sampai berbeda tujuan. Tujuan kita sama, yaitu memajukan olahraga NTB,” katanya.
Mohan menilai komunikasi yang semakin baik antarpemangku kepentingan akan membantu penyelesaian berbagai persoalan olahraga. Hal itu menjadi semakin penting karena NTB akan menghadapi agenda besar sebagai tuan rumah PON XXII 2028.
“PON 2028 bukan pekerjaan satu orang, bukan pekerjaan KONI saja, dan bukan pekerjaan pemerintah saja. Ini pekerjaan kita bersama,” ucap Mohan.
Karena itu, ia berharap PON XXII 2028 tidak hanya menjadi alasan untuk meningkatkan intensitas kerja, tetapi juga menjadi momentum untuk membangun fondasi olahraga NTB secara lebih kuat.
“PON 2028 harus menjadi momentum kita untuk bersatu. Kita ingin sukses sebagai tuan rumah dan pada saat yang sama mampu menunjukkan prestasi terbaik,” katanya.
Mohan juga mengingatkan bahwa PON XXII 2028 tidak semata-mata harus dilihat sebagai ajang pertandingan. Menurut dia, pelaksanaan PON dapat menjadi kesempatan untuk meninggalkan fondasi jangka panjang bagi olahraga NTB.
Fondasi tersebut antara lain mencakup pembinaan atlet, peningkatan kualitas pelatih dan wasit, penguatan sarana dan prasarana, serta pembangunan ekosistem olahraga yang dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Yang kita bangun bukan hanya untuk PON 2028. Kita ingin setelah PON selesai, olahraga NTB tetap memiliki fondasi yang kuat dan terus berkembang,” ujarnya.
Mohan selanjutnya menekankan pentingnya perhatian terhadap pembinaan atlet. Ia berharap atlet NTB tidak hanya dipersiapkan menjelang sebuah kompetisi, tetapi mendapatkan pembinaan melalui sistem yang berkesinambungan.
“Atlet harus menjadi perhatian utama. Mereka harus dibina, didampingi, dan diberi ruang untuk berkembang,” ujarnya.
Menurutnya, prestasi atlet merupakan hasil dari ekosistem olahraga yang sehat. Pembinaan karena itu tidak hanya dilakukan ketika pertandingan akan berlangsung, tetapi dimulai sejak proses pencarian dan pengembangan bakat, latihan, pendampingan, hingga memikirkan masa depan atlet setelah mencapai prestasi.
“Kita harus membangun sistem. Jangan hanya mencari atlet ketika ada pertandingan,” katanya.
Di sisi lain, Mohan mengajak para Ketua KONI kabupaten/kota dan pimpinan cabang olahraga untuk kembali memperkuat komunikasi serta konsolidasi. Ia berharap ruang diskusi dapat diperluas sehingga berbagai unsur olahraga bisa bertukar pandangan sekaligus menyatukan langkah.
“Mari kita mulai dari suasana yang baru. Yang kemarin biarlah menjadi bagian dari proses. Sekarang saatnya kita duduk bersama dan memperkuat komunikasi,” ujar Mohan.
Ia juga berharap Musprov KONI NTB nantinya dapat berlangsung dalam suasana kekeluargaan dan terbuka dengan tetap menempatkan kepentingan olahraga sebagai perhatian utama.
“Saya ingin Musprov menjadi ruang untuk menyatukan kita, bukan ruang untuk memperlebar perbedaan. Mari kita jaga suasana tetap sejuk dan guyub,” katanya.
Mohan menambahkan bahwa dirinya tidak ingin menjalankan proses tersebut seorang diri. Menurut dia, kebersamaan seluruh unsur olahraga akan membuat kerja organisasi lebih ringan dan membuka peluang untuk menghasilkan capaian yang lebih besar.
“Saya tidak ingin berjalan sendiri. Kalau kita berjalan bersama, insyaallah jalannya akan lebih ringan dan hasilnya lebih besar,” lanjut Mohan.
Pengalaman memimpin KONI Kota Mataram, kata Mohan, juga memberikan pemahaman bahwa keberhasilan sebuah organisasi olahraga sangat berkaitan dengan kemampuan membangun kepercayaan dan menjaga komunikasi dengan seluruh unsur yang terlibat.
“KONI harus menjadi rumah bersama bagi seluruh cabang olahraga. Tidak boleh ada yang merasa ditinggalkan,” tegasnya.
Mohan juga menyambut kepercayaan yang disampaikan Iqbal. Namun, ia menegaskan bahwa kepercayaan tersebut tidak semestinya berhenti sebagai dukungan kepada individu. Bagi Mohan, hal itu harus diterjemahkan menjadi energi bersama untuk membangun olahraga NTB.
“Saya menerima ini bukan sebagai kepentingan pribadi. Saya melihatnya sebagai bagian dari ikhtiar bersama untuk olahraga NTB. Karena itu, saya mengajak semuanya untuk tetap bersama,” katanya.
Ia turut menyampaikan apresiasi kepada para insan olahraga yang hadir dan memberikan perhatian terhadap masa depan KONI NTB. Kehadiran para Ketua KONI kabupaten/kota serta pimpinan cabang olahraga, menurut Mohan, menunjukkan adanya kepedulian terhadap arah pembangunan olahraga NTB.
“Saya percaya, kalau niat kita sama dan komunikasi kita baik, banyak hal besar yang bisa kita kerjakan bersama,” ujarnya.
Menutup penyampaiannya, Mohan mengatakan bahwa pembangunan olahraga tidak hanya berkaitan dengan perolehan medali maupun pencapaian prestasi. Lebih jauh, olahraga juga menjadi bagian dari proses membangun manusia, memperkuat kebersamaan, sekaligus menunjukkan arah kemajuan suatu daerah.
“Olahraga adalah cerminan citra, martabat, dan kemajuan suatu daerah. Karena itu, mari kita bangun olahraga NTB dengan hati, dengan kerja, dan dengan kebersamaan,” pungkas Mohan.
(*)
