Oleh: H. Abdul Ali Mutammima Amar Alhaq / Alumni Sosiologi Universitas Mataram 2020 – Mahasiswa Pascasarjana Hukum Keluarga Islam UIN Mataram
Dalam setiap sejarah, selalu ada nama yang menjadi penanda awal sebuah perjalanan. Bagi Program Studi Sosiologi Universitas Mataram, nama itu adalah Ir. Syarifuddin, M.Si. Beliau bukan sekadar pengajar, melainkan sosok dengan suara lantang, sikap tegas, dan perhatian tulus. Kini masa pengabdiannya telah berakhir, namun jejak yang ditinggalkan akan tetap hidup: denyut pertama yang menghidupkan Sosiologi Unram sekaligus warisan abadi bagi generasi berikutnya.
Baca Ini: Satgas MBG NTB: 23 Ribu Anak PAUD/RA Sudah Terlayani, Lombok Timur Tertinggi
Sebelum Sosiologi Unram berdiri, beliau telah lama mengabdi sebagai dosen di Fakultas Pertanian Universitas Mataram. Latar belakang akademiknya unik: seorang insinyur pertanian yang kemudian menekuni ilmu sosial hingga meraih Magister Sosiologi di Institut Pertanian Bogor. Perpaduan disiplin teknik dan kepekaan sosial inilah yang membentuk karakter khasnya—berpikir sistematis, tetapi peka membaca dinamika masyarakat. Gaya mengajarnya pun tak biasa: disiplin, lugas, berani menyuarakan kebenaran, sekaligus tulus menjaga rumah pengabdian yang dicintainya.
Program Studi Sosiologi resmi berdiri pada 3 Juni 2014 melalui SK Kemendikbud No. 132/E/O/2014. Saat itu, Sosiologi ibarat bayi yang baru belajar berjalan: kurikulum harus disusun dari nol, administrasi perlu dirintis, dan arah pengembangan keilmuan belum jelas. Dalam kondisi penuh tantangan ini, Ir. Syarifuddin dipercaya menjadi Ketua Prodi pertama. Keputusan tersebut bukan sekadar administratif, melainkan pengakuan atas kapasitas dan integritasnya. Di bawah kepemimpinannya, fondasi Sosiologi mulai ditata: kurikulum awal, persiapan akreditasi, penataan administrasi, hingga memperkenalkan Sosiologi Unram kepada publik. Tegasnya kepemimpinan beliau memastikan Sosiologi hadir dengan jati diri, bukan sekadar pelengkap di dunia akademik.
Di mata mahasiswa, Ir. Syarifuddin dikenal lewat suara lantangnya yang menggema di ruang kuliah. Bukan sekadar teguran, melainkan cara membangunkan kesadaran agar mahasiswa benar-benar serius menapaki jalan akademik. Sebagai penulis yang menempuh studi 2018–2022, saya merasakan langsung bimbingannya sebagai dosen pembimbing akademik. Setiap pertemuan, beliau selalu menekankan tanggung jawab—bukan hanya soal nilai, tetapi juga kesadaran menjadi mahasiswa sosiologi yang kritis dan berkarakter.
Banyak mahasiswa awalnya segan, bahkan takut. Namun waktu membuktikan, ketegasan itu lahir dari perhatian. Beliau menegakkan pagar disiplin agar mahasiswa tidak kehilangan arah. Dari situlah kami belajar bahwa cinta seorang guru juga bisa hadir dalam keberanian bersikap tegas.
Ketegasannya tak berhenti di ruang kuliah. Himpunan Mahasiswa Sosiologi (Himasos) turut merasakan prinsip yang beliau pegang. Tidak mudah memang mendapatkan izin kegiatan di luar kampus. Saat itu banyak yang merasa dibatasi, namun belakangan kami mengerti: beliau bukan mematikan semangat, melainkan mengarahkan energi pada kegiatan akademik yang relevan dengan sosiologi. Beliau mendorong seminar, forum akademik, dan diskusi ilmiah. Dari sinilah kami belajar bahwa pendidik sejati bukan hanya memberi ruang, tetapi juga tahu kapan menahan agar langkah mahasiswa tetap pada jalurnya.
Ketika H. Rosiady Husaenie Sayuti, M.Sc., Ph.D. kembali dari birokrasi Provinsi NTB dan dipercaya memimpin Prodi Sosiologi, Ir. Syarifuddin bergeser menjadi Sekretaris Prodi. Namun pergeseran jabatan itu tidak mengurangi dedikasinya. Justru di posisi ini ia semakin giat menggerakkan administrasi, mendampingi mahasiswa, dan menopang visi akademik. Inilah ciri khas beliau: jabatan boleh berganti, tetapi pengabdian tidak pernah surut. Yang utama baginya adalah keberlangsungan Sosiologi Unram dan perkembangan mahasiswa.
Kini, saat beliau resmi purna tugas, mungkin suara lantangnya tak lagi terdengar di ruang kuliah. Namun warisan yang ditinggalkan tidak hilang. Bukan sekadar kurikulum atau dokumen akreditasi, melainkan nilai hidup yang membentuk generasi: integritas, disiplin, tanggung jawab, dan keberanian menjaga arah. Nilai itu kini kami bawa sebagai alumni ke tengah masyarakat. Warisan tersebut tak tercatat di arsip resmi, tetapi terpatri dalam hati kami yang pernah ditempa olehnya.
Kenangan bersama beliau kerap hadir. Suara lantang yang dulu membuat waspada, kini menimbulkan rindu. Rindu pada petuah yang membangunkan kesadaran, rindu pada sikap tegas yang menuntun langkah. Seorang alumni pernah berkata:
“Bapak selalu hadir di masa krisis saya selama kuliah. Meski sering membentak, justru itu yang membuat saya lulus. Saya ingat setelah sidang akhir, beliau menghampiri dan menanyakan jalannya sidang. Di balik kerasnya, beliau banyak membantu mahasiswa.”
Kisah sederhana ini menyingkap wajah sejati ketegasan beliau: keras di luar, penuh perhatian di dalam. Itulah cinta seorang guru menjaga, membentuk, dan mendorong anak didiknya agar tidak menyerah.
Terima kasih, Pak Ir. Syarifuddin. Jejak tegasmu adalah denyut pertama yang menghidupkan Sosiologi Unram, dan warisan abadi yang akan terus hidup. Suara itu mungkin tak lagi terdengar, namun gema dan maknanya akan selalu ada dalam sejarah dan ingatan setiap alumni. Kini ketika Sosiologi Unram menatap masa depan, kami sadar: ada pondasi yang engkau letakkan dengan kerja keras dan ketulusan. Engkau tak hanya menulis bab awal, tetapi juga menanamkan nilai yang membuat setiap halaman berikutnya tetap kokoh.
Dan bila suatu hari nama Sosiologi Unram dikenal luas, kami tahu: di baliknya ada denyut pertama yang engkau tetapkan, ada arah yang engkau jaga, dan ada warisan yang engkau tinggalkan. Warisan itu akan kami rawat agar tetap hidup, tumbuh, dan memberi makna.
Terima kasih, Ir. Syarifuddin, M.Si.
