Truk Sapi Menumpuk di Pelabuhan NTB, Satu Ekor Mati, Peternak Desak Gubernur Bertindak

Avatar of lpkpkntb
IMG 20250419 WA0005

Mataram–NTB – Polemik distribusi hewan kurban kembali mencuat di NTB jelang Iduladha 2025. Puluhan truk tronton bermuatan sapi terpantau menumpuk di Pelabuhan Gili Mas, Lombok Barat, dan Pelabuhan Poto Tano, Sumbawa Barat. Para peternak yang datang dari berbagai daerah terpaksa menunggu berhari-hari tanpa kepastian jadwal keberangkatan kapal.

Baca Juga artikel lain:Oknum Pegawai LPPM Unram Jadi Tersangka Kasus Dugaan Pemerkosaan, Polda NTB Terus Dalami Kasus

Situasi ini memunculkan kekhawatiran serius terkait kesejahteraan hewan. Satu ekor sapi dilaporkan mati karena kepanasan dan kekurangan air. Selebihnya tampak lemas dan stres akibat terjebak terlalu lama di dalam truk tanpa tempat berteduh dan suplai air yang memadai.

“Dari kemarin kami sudah antre, tapi kapal belum juga datang. Ini bukan yang pertama. Tahun lalu juga begini,” ungkap Putra, peternak asal Bima, Jumat (18/4/2025).

Putra menyebutkan, para peternak yang membawa ternak ke pelabuhan untuk dikirim ke Jakarta kini merasa ditelantarkan. Ketidakhadiran kapal membuat mereka terpaksa bertahan di pelabuhan dengan fasilitas minim. “Sapi-sapi kami bisa mati satu per satu kalau terus seperti ini,” keluhnya.

Hal senada disampaikan Sadam, peternak lainnya. Ia membenarkan satu sapi milik warga mati akibat kondisi ekstrem di pelabuhan. “Kami kesulitan mendapatkan air bersih, apalagi tempat berteduh,” katanya.

Para peternak mendesak Gubernur NTB dan Dinas Perhubungan segera mengambil tindakan konkret. Mereka menuntut penyediaan fasilitas darurat seperti suplai air bersih, tempat berteduh, serta pengaturan jadwal kapal yang jelas dan terkoordinasi.

“Kami datang dari jauh untuk menyuplai kebutuhan kurban nasional. Jangan sampai kerja keras kami berujung sia-sia karena kelalaian pemerintah,” tegas Putra.

Polemik ini menyingkap rapuhnya manajemen distribusi ternak di NTB yang terus berulang saban tahun. Jika tidak segera dibenahi, bukan hanya hewan yang menjadi korban, tetapi juga kepercayaan pasar nasional terhadap pemasok ternak dari NTB.