Perjalanan spiritual Sasaka NTB kembali mewarnai langkah Keluarga Besar Sasaka Nusantara NTB 34 pada awal tahun ini. Sejumlah anggota dan pengurus organisasi melaksanakan ibadah umrah ke Tanah Suci Makkah dan Madinah. Rombongan berangkat dengan penuh harapan, rasa syukur, dan keinginan tulus untuk mendekat kepada Allah SWT.
Momentum Sasaka Nusantara NTB
Momentum ibadah umrah ini bukan hanya menjadi perjalanan biasa, tetapi sebuah pengalaman mendalam yang diyakini akan memberikan jejak kuat bagi kehidupan pribadi maupun sosial jamaah. Selama beberapa hari di Tanah Suci, seluruh rangkaian ibadah diikuti dengan khidmat mulai dari thawaf dan sai di Masjidil Haram, hingga ziarah ke sejumlah lokasi bersejarah yang menjadi saksi perjuangan Islam di awal masa kerasulan.
Ketua Sasaka Nusantara NTB, L. Ibnu Hajar Akbar, menegaskan bahwa umrah kali ini menjadi salah satu momen terbaik dalam sejarah perjalanan organisasi. Baginya, kesempatan ini adalah karunia besar yang tidak semua orang bisa raih dalam waktu yang sama. Ia menyampaikan rasa syukur sekaligus getaran emosional yang sulit digambarkan.
“Alhamdulillah, merasa damai dan mendapat semangat baru untuk berjuang di jalan Allah,” tuturnya ketika dihubungi dari Tanah Suci.
Ibnu juga menambahkan, setiap langkah ibadah membawa kedamaian batin. Berada di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi memberi kesadaran bahwa manusia hanyalah hamba yang penuh kekurangan dan sangat bergantung kepada Allah. Karena itu, ia berharap momentum suci ini membuka pintu-pintu keberkahan baru bagi organisasi dan seluruh anggotanya.
Menurutnya, perjalanan umrah memiliki tujuan lebih luas daripada sekadar melaksanakan rangkaian ritual. Ini adalah ruang pembelajaran hidup, saat seseorang berhadapan langsung dengan nilai ketawadhuan, keberanian memperbaiki diri, dan kesadaran untuk memprioritaskan pengabdian.
Di sisi lain, para jamaah juga merasakan suasana penuh kekeluargaan. Kebersamaan yang terbangun bukan hanya karena tinggal dan beribadah di tempat yang sama, tetapi karena setiap anggota saling mendukung, mengingatkan, dan menguatkan satu sama lain. Dalam kondisi jauh dari tanah air, persaudaraan di antara jamaah menjadi sangat terasa, dan nilai solidaritas semakin menebal.
Selama berada di Tanah Suci, rombongan Sasaka Nusantara NTB 34 tak henti memperbanyak ibadah, doa, dan dzikir. Pada waktu senggang, mereka melakukan ziarah ke sejumlah lokasi peninggalan sejarah Islam yang sarat pesan perjuangan, pengorbanan, dan cinta kepada Rasulullah SAW. Setiap tempat yang dikunjungi menjadi pengingat bahwa penyebaran Islam penuh pengabdian, sehingga generasi sekarang harus meneruskan estafet itu dengan cara masing-masing.
Tidak sedikit anggota yang mengaku tersentuh ketika menatap Ka’bah secara langsung untuk pertama kalinya. Ada rasa haru, takjub, dan gemetar yang bercampur menjadi satu. Mereka yang pernah ke Tanah Suci sebelumnya pun mengatakan bahwa perasaan itu selalu datang kembali, meski telah berkali-kali menyaksikan rumah Allah.
Ibnu Hajar menegaskan bahwa sekembalinya ke tanah air nanti, para jamaah membawa amanah besar: menerjemahkan pengalaman spiritual menjadi tindakan nyata. Ia berharap seluruh anggota Sasaka Nusantara NTB dapat meneruskan ruh ibadah umrah ke lingkungan masing-masing, baik melalui dakwah, kegiatan sosial, maupun aksi kebaikan sederhana.
“Salah satu doa terbesar kami ialah menjadi hamba yang bermanfaat bagi masyarakat dan daerah kami. Beribadah itu wajib, tapi mengabdi juga perintah mulia,” ujarnya.
Selain itu, pelaksanaan umrah ini diharapkan menjadi inspirasi bagi anggota Sasaka Nusantara lainnya yang belum berangkat. Ibnu mendorong agar organisasi terus membuka kesempatan lebih luas, sehingga semakin banyak kader atau simpatisan yang mendapat jalan menuju Tanah Suci.
Perjalanan spiritual ini juga menjadi gambaran kekuatan tekad organisasi dalam memupuk silaturahmi serta menjaga aktivitas positif dan produktif. Bagi jamaah, kesempatan berkumpul, berdiskusi, dan merenungkan masa depan organisasi di tanah seribu doa adalah hal berharga yang tidak bisa diukur dengan materi semata.
Di Masjid Nabawi, rombongan menyempatkan diri melaksanakan salat berjemaah sambil memperbanyak zikir dan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW. Di Raudah, area yang disebut sebagai salah satu taman surga, banyak jamaah yang melantunkan doa panjang untuk keluarga, daerah, dan bangsa.
Mereka juga memohon agar Sasaka Nusantara NTB tetap diberi kekuatan dalam menjalankan program-programnya, baik yang mendukung pendidikan, sosial kemasyarakatan, maupun pemberdayaan generasi muda.
Sebelum menutup rangkaian ibadah, rombongan mengirimkan salam untuk seluruh keluarga besar Sasaka Nusantara di tanah air. Mereka berharap doa dan dukungan yang mengalir senantiasa menjadi energi spiritual selama menunaikan ibadah.
Dalam beberapa hari ke depan, rombongan masih akan menuntaskan rangkaian ziarah, memperbanyak ibadah di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, sebelum kembali ke Indonesia. Doa bersama dipanjatkan agar perjalanan pulang berjalan lancar dan semua jamaah tiba dengan selamat.
Perjalanan umrah ini meninggalkan pesan penting bahwa ibadah yang dilakukan secara kolektif mampu memperkuat rasa persaudaraan, memperhalus hati, dan membangkitkan kembali motivasi untuk terus berkarya di masyarakat.
Umrah bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi perjalanan jiwa. Dan bagi Keluarga Besar Sasaka Nusantara NTB 34, ibadah ini telah menjadi tonggak pengingat bahwa pengabdian, persaudaraan, dan perjuangan di jalan Allah harus senantiasa diteruskan.
