LOMBOK TENGAH – Fenomena usaha makanan ringan berbasis UMKM terus berkembang di Nusa Tenggara Barat. Salah satu produk yang kini banyak diminati adalah basreng, camilan berbahan dasar bakso goreng dengan berbagai varian rasa.

Latar belakang pendidikan kerap menjadi bekal penting dalam membangun usaha. Hal itu dibuktikan oleh Saadah, pemuda asal Desa Penujak, Dusun Toro, Lombok Tengah. Lulusan jurusan Ekonomi dari salah satu kampus di Kota Mataram ini sukses menekuni usaha basreng (bakso goreng) hingga mampu meraup keuntungan jutaan rupiah setiap hari.
Sejak menyelesaikan pendidikan strata satu (S1), Saadah memilih mengaplikasikan ilmu ekonomi yang dimilikinya ke dunia usaha. Dengan perhitungan matang dalam pengelolaan modal, harga, dan distribusi, usaha basreng yang dijalaninya terus berkembang.
Produk basreng yang dipasarkan hadir dalam beragam varian dan kemasan, mulai dari harga seribuan rupiah untuk ukuran kecil hingga ratusan ribu rupiah bahkan kiloan untuk kebutuhan grosir. Basreng ini banyak diminati pedagang kaki lima, warung, hingga pembeli dari berbagai wilayah.
“Alhamdulillah, permintaan cukup tinggi. Sekali belanja bisa sampai puluhan juta rupiah, tergantung kebutuhan pasar,” ujar Saadah.
“Awalnya hanya coba-coba setelah lulus kuliah, tapi ternyata peminatnya terus meningkat,” ujar Saadah saat diwawancarai.
Dalam pelayanan, pembeli dapat datang langsung ke rumah atau memesan melalui jasa kurir, sehingga transaksi menjadi lebih mudah dan cepat. Selain itu, Saadah juga aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi, yang membuat jangkauan pasarnya meluas hingga Sumbawa, Bima, bahkan di luar Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB).
Rasa gurih, harga terjangkau, serta fleksibilitas kemasan menjadi keunggulan basreng yang dipasarkan Saadah. Tak hanya menjadi sumber penghasilan pribadi, usaha ini juga ikut menggerakkan roda ekonomi daerah melalui jaringan distribusi dan pedagang.
Kisah Saadah menjadi inspirasi bagi sarjana bahwa ilmu yang dipelajari di bangku kuliah dapat langsung diterapkan untuk membangun usaha mandiri.
“Yang penting berani mulai dan konsisten. Peluang usaha selalu ada,” tutup Saadah.
Ke depan, diharapkan pemerintah daerah dapat memberi perhatian lebih kepada pelaku usaha muda agar UMKM lokal semakin berkembang.





































![Ilustrasi: dosen killer. Dok. [Pexels./bi]](https://i0.wp.com/www.lpkpkntb.com/wp-content/uploads/2025/12/Screenshot_2025-12-27-20-37-37-25_40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b122.jpg?resize=250%2C140&ssl=1)



































