Lombok Tengah — Di tengah hamparan sawah dan jalan desa yang masih menyisakan aroma pedesaan Lombok yang otentik, Dusun Toro di Desa Penujak, Kecamatan Praya Barat, Lombok Tengah, menyimpan kisah perubahan sosial yang jarang tersorot. Dusun kecil yang dulu dikenal sebagai bagian penting sentra gerabah Penujak ini kini tumbuh menjadi kampung yang melahirkan banyak generasi terdidik.

Toro merupakan salah satu dusun yang ikut membentuk reputasi besar Desa Penujak sebagai penghasil gerabah tradisional Lombok. Pada masa kejayaannya, hampir setiap halaman rumah warga dipenuhi gerabah basah yang dijemur di bawah terik matahari. Perempuan, laki-laki, hingga remaja terlibat langsung dalam proses pembuatan piring, kendi, teko, hingga guci.
Gerabah asal Toro dikenal kuat dan bertekstur halus. Bahan tanah liat khas dari lahan setempat serta teknik tradisional yang diwariskan turun-temurun membuat produk Penujak diminati wisatawan dan pedagang antardaerah.
Seiring perubahan zaman, jumlah perajin kian menyusut. Persaingan produk pabrikan, menurunnya minat generasi muda, serta pergeseran orientasi pekerjaan membuat banyak warga beralih profesi menjadi petani, buruh tani, pekerja lepas, hingga merantau ke luar daerah dan luar negeri.
Namun, perubahan tersebut tidak menghilangkan identitas sosial masyarakat Toro. Justru, dusun ini mengalami perkembangan pesat di bidang pendidikan.
Menurut Hasbi, putra asli Toro yang kini berkiprah sebagai akademisi di Nusa Tenggara Barat, perubahan paling mencolok terlihat dari meningkatnya partisipasi warga dalam pendidikan tinggi.
“Warga Toro sekarang banyak yang melanjutkan studi sampai S1, S2, bahkan S3. Ini perkembangan yang dulu tidak pernah terbayang,” ujarnya.
Dari Toro kini lahir generasi yang berkiprah sebagai guru, dosen, tenaga kependidikan, aparat desa, tenaga kesehatan, pendamping sosial, TNI hingga wirausahawan dan profesional di berbagai bidang. Salah satunya adalah Dina, guru asal Dusun Toro yang saat ini mengabdi sebagai tenaga pendidik di SDN 4 Penujak.
Kehadiran Dina menjadi representasi perubahan sosial di Toro. Jika dulu anak-anak tumbuh dengan bayangan menjadi perajin gerabah, kini mereka memiliki figur nyata di kampung sendiri yang menunjukkan bahwa pendidikan dapat membuka jalan pengabdian melalui profesi guru.
Di tengah perubahan profesi dan pola hidup masyarakat, tradisi begawe tetap menjadi perekat sosial warga. Begawe atau hajatan besar bukan sekadar perayaan keluarga, tetapi momentum kebersamaan yang melibatkan seluruh warga dusun dalam semangat gotong royong.
Dalam setiap begawe, warga saling membantu tanpa pamrih mulai dari membawa bahan makanan, memasak, hingga menyiapkan kebutuhan acara. Tradisi ini terus dijaga sebagai bentuk solidaritas sosial lintas generasi.
Dalam kajiannya, Hasbi menyebut begawe sebagai modal sosial masyarakat Toro yang menjaga kohesi sosial di tengah perubahan ekonomi dan pendidikan. Tradisi ini menjadi ruang pertemuan generasi tua dan muda sekaligus pengingat bahwa kemajuan tidak harus memutus nilai kebersamaan.
Bagi orang luar, Toro mungkin hanya sebuah dusun kecil di Lombok Tengah. Namun bagi warganya, kampung ini adalah ruang belajar tentang bagaimana masyarakat adat mampu menyikapi modernitas tanpa kehilangan akar budaya.
Di tanah tempat gerabah pernah berjaya, kini tumbuh generasi baru dengan cita-cita lebih luas tetap berpijak pada nilai gotong royong, kebersamaan, dan adat Sasak yang menghidupi Toro hingga hari ini.






































![Ilustrasi: dosen killer. Dok. [Pexels./bi]](https://i0.wp.com/www.lpkpkntb.com/wp-content/uploads/2025/12/Screenshot_2025-12-27-20-37-37-25_40deb401b9ffe8e1df2f1cc5ba480b122.jpg?resize=250%2C140&ssl=1)

































































