Fenomena sosial di banyak lingkungan permukiman, baik di kota maupun desa, hubungan antar tetangga yang dahulu dikenal akrab dan saling peduli kini terasa semakin renggang. Fenomena ini bukan peristiwa tunggal di satu wilayah, melainkan terjadi hampir di mana-mana. Sapa ramah mulai jarang terdengar, kerja bakti semakin sepi, dan konflik kecil kerap membesar hanya karena miskomunikasi.
Di banyak lingkungan permukiman, baik di kota maupun desa, hubungan antar tetangga yang dahulu dikenal akrab dan saling peduli kini terasa semakin renggang. Fenomena ini bukan sekadar perubahan kebiasaan sehari-hari, melainkan mencerminkan transformasi sosial yang lebih dalam. Kesibukan kerja, tuntutan ekonomi, dan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi membuat interaksi sosial berbasis kedekatan tempat tinggal kehilangan intensitasnya. Banyak warga berangkat pagi dan pulang malam, sehingga ruang sosial untuk membangun kedekatan emosional antar tetangga semakin menyempit.
BACA:Surga Dunia 9 Budaya Seks Paling Bebas di Dunia, Ada Tetangga Indonesia Lho!
Dalam kerangka individualization theory (teori individualisasi) yang dikemukakan Ulrich Beck (1986), masyarakat modern cenderung memusatkan orientasi hidup pada pencapaian personal dan kemandirian individu. Identitas sosial tidak lagi dibangun dari keanggotaan komunal, melainkan dari prestasi dan kepemilikan pribadi. Akibatnya, hubungan bertetangga tidak lagi dianggap sebagai kebutuhan sosial yang penting, melainkan sekadar relasi administratif atau kebetulan geografis. Dalam konteks ini, sikap saling peduli perlahan digantikan oleh sikap saling menjaga jarak demi kenyamanan dan privasi.
Perubahan ini juga dapat dipahami melalui perspektif social change theory (teori perubahan sosial). Émile Durkheim (1893) menjelaskan bahwa masyarakat bergerak dari solidaritas mekanik menuju solidaritas organik. Pada solidaritas mekanik, kohesi sosial dibangun melalui kesamaan nilai, kepercayaan, dan aktivitas bersama. Namun pada solidaritas organik, masyarakat terikat oleh pembagian kerja dan fungsi yang berbeda-beda. Hubungan sosial menjadi lebih rasional dan fungsional, sehingga ikatan emosional antar tetangga tidak lagi menjadi fondasi utama kehidupan sosial. Hal ini menjelaskan mengapa kegiatan kolektif seperti kerja bakti, ronda malam, atau musyawarah warga semakin jarang diminati.
Kemajuan teknologi dan media sosial semakin memperkuat kondisi tersebut. Interaksi sosial yang sebelumnya berlangsung secara langsung kini banyak dialihkan ke ruang digital. Ironisnya, seseorang dapat aktif berkomunikasi dengan orang jauh, namun nyaris tidak mengenal tetangga di sebelah rumahnya. Dalam perspektif symbolic interactionism (teori interaksi simbolik) yang berkembang sejak pemikiran George Herbert Mead (1934) dan Herbert Blumer (1969), makna kebersamaan terbentuk melalui interaksi yang berulang dan simbol-simbol sosial yang dipahami bersama. Ketika interaksi itu berkurang, maka simbol kepercayaan, empati, dan rasa memiliki terhadap lingkungan ikut memudar. Kesalahpahaman pun mudah muncul karena tidak adanya komunikasi yang intens dan terbuka.
Di sisi lain, disharmoni antar tetangga juga dapat dijelaskan melalui social conflict theory (teori konflik sosial) yang berakar dari pemikiran Karl Marx (1867) dan dikembangkan lebih lanjut oleh Ralf Dahrendorf (1959). Perbedaan latar belakang ekonomi, status sosial, dan kepentingan sering kali memicu ketegangan terselubung. Masalah-masalah sepele seperti parkir, kebisingan, atau batas lahan dapat berkembang menjadi konflik berkepanjangan karena adanya kecemburuan sosial dan perebutan pengaruh di tingkat lokal. Dalam masyarakat yang kohesi sosialnya lemah, konflik kecil cenderung membesar karena tidak adanya mekanisme sosial yang efektif untuk meredamnya.
Dengan demikian, menurunnya keharmonisan antar tetangga bukan semata-mata disebabkan oleh sikap individual, melainkan merupakan konsekuensi dari perubahan struktur dan nilai sosial masyarakat modern. Tantangan ke depan adalah bagaimana masyarakat mampu menyeimbangkan tuntutan kehidupan modern dengan upaya menjaga relasi sosial di tingkat lokal. Kehidupan bertetangga yang harmonis tetap menjadi fondasi penting bagi ketahanan sosial, karena dari lingkungan terdekat inilah rasa aman, solidaritas, dan kepedulian sosial seharusnya tumbuh dan dipelihara.
Penulis: Hasbi

