114 Anak Tinggalkan Sekolah Rakyat, Apa yang Sebenarnya Terjadi di Balik Asrama?

Avatar of lpkpkntb

Jakarta — Raut wajah Menteri Sosial Saifullah Yusuf tampak berat saat bercerita. Di tengah semangat mengembangkan Sekolah Rakyat, kabar yang datang justru membuatnya menghela napas panjang.

Baca:Pendaftaran CPNS–PPPK 2025 Agustus–September, Kapan di Buka? Cek Jadwal, Syarat, Formasi, dan Link Daftar di Sini

“Dari 99.700 siswa, sekitar 114 anak memutuskan mundur. Kami menyetujui dengan berat hati,” ujar pria yang akrab disapa Gus Ipul itu, usai melantik guru Sekolah Rakyat di Kantor Kemensos, beberapa hari lalu kepada wartawan.

Bagi Gus Ipul, Sekolah Rakyat bukan sekadar proyek pendidikan. Ia adalah rumah bagi anak-anak dari keluarga rentan, ruang yang diharapkan menjadi titik balik masa depan mereka. Namun, saat keputusan keluarga sudah bulat, pemerintah tak bisa memaksa.

Baca Juga:Siap Daftar? Ini Rincian Gaji Guru Sekolah Rakyat 2025, Tertinggi Rp7 Juta

Pesan dari Seorang Pakar

Kabar ini mengundang perhatian Prof Lala M Kolopaking, pakar sosiologi pedesaan dan pengembangan masyarakat dari IPB University. Baginya, mundurnya siswa adalah sinyal penting: program sebesar ini harus menyentuh hati dan budaya warga setempat.

“Tujuannya sudah baik, tapi harus ada pemetaan sosial budaya terlebih dahulu. Warga harus dilibatkan sejak awal, agar mereka menjadi bagian dari program, bukan sekadar penerima,” jelas Lala.

Asrama: Peluang dan Rintangan

Bagi sebagian siswa, Sekolah Rakyat berasrama adalah pengalaman pertama jauh dari rumah. Rasa rindu kampung halaman homesick mungkin jadi alasan tak betah.

Padahal, kata Lala, sekolah berasrama punya potensi besar untuk membentuk karakter anak-anak desa. “Tapi orang yang keluar dari rumah perlu proses adaptasi. Tidak bisa langsung dipaksa masuk asrama tanpa persiapan sosial dan psikologis,” ujarnya.

Kunci Keberhasilan Ada di Awal

Menurut Lala, ada tiga langkah penting agar sekolah berasrama bisa diterima:

  1. Dialog dengan masyarakat setempat

  2. Pemetaan sosial budaya

  3. Seleksi siswa sesuai latar belakang mereka

“Kalau semua diputuskan dari atas, tanpa mempertimbangkan konteks lokal, akan sulit diterima,” tegasnya.

Belajar dari Tanah Tempat Kita Berdiri

Bagi Lala, pendidikan bukan hanya soal ruang kelas dan buku pelajaran. Kurikulum pun harus berpijak pada tanah di mana siswa berdiri.

Di daerah perkebunan karet, misalnya, pelajaran umum sebaiknya dipadukan dengan keterampilan industri karet. Di pesisir, anak-anak bisa belajar tentang industri maritim.

“Dengan begitu, sejak awal mereka tahu akan menjadi penggerak ekonomi di lingkungannya sendiri,” katanya.

Guru: Jembatan antara Sekolah dan Budaya

Peran guru pun tak kalah penting. Mereka bukan hanya pengajar, tapi jembatan yang menghubungkan ilmu dengan kehidupan sehari-hari siswa.

“Guru harus paham budaya lokal tempat mereka mengajar, agar pelajaran yang diberikan relevan dan membentuk karakter sesuai lingkungannya,” tutup Lala.