Pagi itu, sekitar pukul 09.00 WITA, sinar matahari menembus lembut di antara daun yang bergoyang pelan di halaman Sekolah Dasar Negeri 4 Penujak. Udara terasa segar, membawa aroma tanah dan rumput yang baru saja tersentuh embun. Langkahku perlahan menyusuri jalan kecil menuju gerbang sekolah tempat di mana dulu, setiap pagi, aku berlari kecil dengan tas di punggung dan hati yang penuh semangat.
Baca:Aku Berpikir, Maka Aku Ada: Filosofi Legendaris yang Masih Menginspirasi Dunia Modern
Aku berhenti sejenak di depan papan nama sekolah. Kini papan itu berdiri di sisi kanan gerbang, tapi dulu, aku masih ingat jelas papan nama SDN 4 Penujak berada di sebelah kiri. Entah kenapa detail kecil itu begitu kuat melekat di ingatanku. Mungkin karena di sanalah dulu aku sering berdiri menunggu teman-teman datang, atau karena di bawah tulisan itulah aku pernah bersama teman sekelas setelah upacara kenaikan kelas.
Waktu telah berjalan jauh, namun kenangan itu tetap hidup. Aku tersenyum kecil, merasakan campuran antara haru dan syukur.
Sekarang aku datang bukan sebagai murid yang menenteng buku tulis dengan seragam merah putih, melainkan sebagai pembimbing mahasiswa yang sedang menjalankan Program Pengenalan Lapangan Persekolahan (PLP). Langkah ini seperti membawa diriku menelusuri dua masa sekaligus masa lalu yang penuh tawa dan masa kini yang penuh tanggung jawab.
Aku melangkah masuk ke ruang kelas. Dindingnya masih sederhana, tapi hangatnya tetap sama. Cahaya matahari pagi menyusup lewat jendela, menimpa meja-meja kayu yang kini dipenuhi coretan. Dulu aku duduk di bangku seperti itu, menatap papan tulis dengan mata berbinar, memegang pensil dengan tangan gemetar, takut salah, tapi bersemangat untuk mencoba.
Setiap sudut ruangan memanggil ingatan lama bersama teman-teman, suara guru yang lembut memberi arahan, tawa teman yang pecah saat pelajaran olahraga, hingga detak jantungku saat dipanggil maju ke depan kelas. Di tempat inilah aku belajar arti disiplin, keberanian, dan rasa hormat kepada ilmu.
Kini, berdiri di ruang yang sama, aku melihat mahasiswa-mahasiswa yang kubimbing berbicara dengan guru dan murid. Wajah mereka memancarkan semangat yang sama seperti yang dulu pernah aku miliki keinginan untuk belajar dan mengabdi. Dalam diam, aku merasa bangga. Sekolah ini telah melahirkan generasi demi generasi, dan kini aku kembali sebagai bagian dari mata rantai yang sama.
Aku menatap ke luar jendela. Halaman sekolah terbentang luas, masih seperti dulu tempat kami berlarian saat istirahat, tempat tawa masa kecil bergema tanpa beban. Sinar matahari pagi menimpa lantai halaman, membuat bayangan panjang yang seolah menyapa masa lalu.
Terima kasih, guruku.
Terima kasih atas kesabaran dan kasih sayangmu. Di tempat sederhana inilah engkau menanamkan nilai yang kini tumbuh menjadi jalan hidupku. Kini aku tahu, setiap huruf yang dulu engkau ajarkan telah berubah menjadi langkah-langkah yang membawaku kembali ke tempat ini, dengan peran yang berbeda, namun dengan rasa yang sama cinta pada dunia pendidikan.
Pagi itu, di bawah cahaya lembut matahari, aku merasa seolah berbicara dengan masa kecilku sendiri. Sekolah ini bukan hanya tempat belajar, tapi rumah yang membentuk jiwaku.
Dan ketika aku melangkah meninggalkan halaman, aku menoleh sekali lagi ke arah papan nama yang kini berdiri di kanan. Dalam hati aku berkata pelan,
“Dulu engkau di sebelah kiri, tapi maknanya tetap di tempat yang sama di hatiku.” 🌿📖

