Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, meluncurkan program pendidikan karakter bagi siswa yang dianggap bermasalah, seperti terlibat tawuran atau kecanduan gim, dengan mengirim mereka ke barak militer.
Baca:Pendidikan sebagai Katalisator dalam Membangun Demokrasi
Dedi Mulyadi Kirim Siswa
Program ini bertujuan untuk membentuk kedisiplinan, tanggung jawab, dan spiritualitas melalui pelatihan fisik dan kegiatan seperti bershalawat.
Sebanyak 273 siswa telah mengikuti program ini di barak militer Lembang dan dijadwalkan lulus pada 20 Mei 2025.
Dedi menyatakan bahwa setelah lulus, akan ada angkatan baru yang menyusul, dengan jumlah peserta yang diperkirakan mencapai belasan ribu
Kritik dan Kontroversi
Program ini mendapat kritik dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). KPAI menilai bahwa pendidikan ala militer bagi siswa yang dianggap nakal berpotensi melanggar hak anak. FSGI juga menolak program ini karena dianggap tidak memiliki landasan psikologis dan pedagogik yang jelas.
Baca:Perkembangan Anak Penting Peran Orang Tua, Berikut tips nya
Menanggapi kritik tersebut, Dedi Mulyadi menantang KPAI untuk turut serta membina ribuan siswa bermasalah di Jawa Barat, mempertanyakan sejauh mana lembaga tersebut bisa berkontribusi secara langsung.
Dukungan dan Implementasi
TNI Angkatan Darat (AD) menyatakan kesiapannya untuk membina siswa bermasalah di barak militer, sebagaimana rencana Dedi Mulyadi. Mekanisme pengiriman siswa akan melibatkan kesepakatan resmi antara sekolah, orang tua, Pemprov Jabar, dan Kodam III/Siliwangi, dengan fokus utama pada penguatan karakter, nasionalisme, dan kedisiplinan.
