lpkpkntb.com – Di tengah dominasi Partai Gerindra dalam kepemimpinan daerah pasca-Pilkada 2024, perhatian publik justru tertuju pada satu sosok yang dinilai “lebih terasa sebagai pemimpin” oleh masyarakat yakni Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Meski sejawat separtai dengan sejumlah kepala daerah lainnya, termasuk pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur NTB terpilih, Iqbal–Dinda, Kang Dedi menjadi sorotan netizen karena gaya kepemimpinannya yang menyentuh dan penuh empati.
Baca Juga:Mahasiswa NTB Serukan Dukungan Beasiswa, Gubernur Iqbal-Dinda Dinilai Peka terhadap Dunia Pendidikan
Fenomena ini viral di TikTok, di mana berbagai cuplikan blusukan Kang Dedi ke pelosok desa, aksi sosial tanpa protokoler, hingga dialog akrab dengan warga kecil, menuai pujian luas. Tagar #KangDedi dan #GubernurRakyat bahkan beberapa kali menjadi trending.
“Pemimpin bukan hanya soal jabatan, tapi soal kehadiran. Dan Kang Dedi hadir untuk rakyat,” tulis salah satu warganet dalam komentar yang disukai ribuan pengguna TikTok.
Sebagian netizen kemudian mulai membandingkan gaya kepemimpinan Kang Dedi dengan gubernur lain, termasuk di NTB. yakni Dr H Lalu Iqbal sama-sama berasal dari Gerindra dan baru saja memenangkan Pilkada dengan perolehan suara signifikan, namun persepsi publik soal “kehadiran sebagai pemimpin” masih menjadi tantangan tersendiri.
Akademisi dan kandidat doktor dari NTB, Hasbi, menilai bahwa gaya kepemimpinan Iqbal–Dinda masih berada pada tahap konsolidasi pasca-kemenangan. “Iqbal dan Dinda punya potensi besar membawa NTB ke arah yang lebih progresif, tetapi mereka perlu segera membangun komunikasi yang kuat dengan publik tidak hanya melalui program, tapi juga lewat narasi dan kehadiran yang membumi seperti yang dilakukan Kang Dedi,” ujarnya.
Hasbi menambahkan, Gubernur NTB saat ini telah menunjukkan perhatian serius terhadap pembangunan sumber daya manusia, khususnya melalui perluasan akses beasiswa, awalaupun hingga saat ini implementasinya belum terlihat, namun “Gubernur tengah mengupayakan program beasiswa dari jenjang S1 hingga S3, baik di dalam maupun luar negeri. Ini langkah strategis untuk menyiapkan generasi emas NTB,” harap Hasbi.
Menurut Hasbi, kebijakan ini layak diapresiasi, namun tetap membutuhkan strategi komunikasi yang lebih terbuka dan menyentuh agar publik merasakan langsung kehadiran dan kepedulian pemimpinnya. “Program bagus perlu dikemas dengan pendekatan yang lebih membumi agar tidak hanya terasa oleh birokrasi, tapi juga oleh rakyat di akar rumput,” tambahnya.
Sementara Analis politik dari Unpad, Dr. Haryono Nugroho seperti diberitakan di media lain, turut menanggapi fenomena ini. Menurutnya, “Kepemimpinan kini bukan hanya soal kinerja administratif, tapi juga soal komunikasi dan empati yang mampu menjangkau semua lapisan masyarakat.”
Meski begitu, para pengamat sepakat bahwa viralitas bukan satu-satunya tolok ukur kepemimpinan. Yang utama tetap hasil kerja nyata dan dampaknya bagi kesejahteraan rakyat.
Kang Dedi dinilai berhasil memadukan kerja nyata dengan narasi empati yang kuat. Sementara Iqbal–Dinda di NTB masih dinanti langkah konkrit dan komunikasi terbuka yang mampu menyentuh hati rakyatnya.
