Peta Kekuatan Pilrek Unram Mengarah ke Dua Tokoh Besar, Siapa Unggul?

Avatar of lpkpkntb
1763550591241
Peta Kekuatan Pilrek Unram (Dok.Net/fb).

Mataram — Pagi di Universitas Mataram selalu datang dengan tenang. Dari balik jendela Perpustakaan, mahasiswa berjalan berpasangan membawa buku atau laptop, sementara dosen melintas pelan di bawah rindang ketapang. Tidak ada tanda hiruk-pikuk politik kampus. Namun dalam obrolan ringan di lorong kuliah hingga diskusi informal di ruang dosen, satu isu terus mengalir: siapa yang akan memimpin Unram empat tahun ke depan?

Baca:Dikenal Rendah Hati, Prof. Sukardi Resmi Mendaftar Calon Rektor Unram 2026–2030: Jabatan Bukan Segalanya

Pemilihan Rektor Universitas Mataram memasuki fase penting. Enam guru besar resmi mendaftar. Mereka berasal dari berbagai rumpun keilmuan hukum, peternakan, teknik, pendidikan, hingga kedokteran menandakan bahwa kontestasi kali ini menjadi panggung besar bagi para akademisi dengan rekam jejak panjang.

Menurut hasil investigasi media dinamika Pilrek Unram tahun ini dianggap lebih cair, namun tetap menyimpan tensi strategis. Sementara itu, beberapa kanal pemberitaan lokal lain seperti radarmandalika dan globalfmlombok juga mencatat bahwa peta kekuatan di tingkat senat universitas tampak mulai mengerucut ke dua kandidat yang paling menonjol.

Baca:Artikel Inspiratif Muslim (AIM): KAYA DAN MISKIN

Dua Poros Utama yang Mendominasi Percakapan Kampus

Dari sekian banyak nama yang beredar, dua figur menjadi pusat pembahasan mahasiswa, dosen, hingga tenaga kependidikan:

  1. Prof. Dr. dr. Hamsu Kadriyan – Guru besar Fakultas Kedokteran yang dikenal sebagai inovator berorientasi terobosan. Beberapa program riset unggulan dan pembaruan sistem layanan akademik kerap dikaitkan dengan kontribusinya. Sumber internal fakultas menyebut Hamsu sebagai “kandidat yang membawa angin perubahan.”

  2. Prof. Dr. Sukardi – Wakil Rektor II yang dipandang sebagai stabilisator birokrasi. Dukungan dari beberapa kalangan struktural dinilai cukup kuat karena ia dianggap mampu menjaga kesinambungan kebijakan dan ketertiban administrasi. Sejumlah pengamat kampus menilai Sukardi sebagai “kandidat berhaluan sistemik dengan basis dukungan luas.”

Empat kandidat lainnya tetap berada dalam gelanggang dengan gagasan yang berarti mulai dari reformasi tata kelola, penguatan sentra riset, hingga pelebaran kolaborasi internasional. Namun dalam dinamika Pilrek yang bergerak sunyi, kontras antara inovasi terobosan dan stabilitas sistemik menjadi perbincangan utama yang terus menghangat.

Menunggu Babak Berikutnya

Tahapan berikutnya adalah penyampaian visi-misi, yang menurut informasi di himpun media, akan menjadi titik krusial untuk melihat siapa yang paling mampu mengikat simpati senat maupun publik kampus. Beberapa sumber dari lingkungan fakultas menyebut bahwa pergerakan-pergerakan informal sudah mulai terasa, meski tetap dalam batas etika akademik.

Dari balik keteduhan kampus, narasi Pilrek Unram perlahan menemukan bentuknya. Pertarungan ide dan arah masa depan institusi kini memasuki fase penentuan.

(*)