MANGGARAI, NTT — Kepedulian terhadap masyarakat yang terdampak gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus berdatangan dari berbagai kalangan. Di tengah kondisi masyarakat yang masih berupaya bangkit setelah bencana, solidaritas mahasiswa Program Doktor (S3) Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) hadir dalam bentuk bantuan kebutuhan pokok.
Sebanyak 1 ton beras disalurkan untuk membantu masyarakat yang terdampak gempa di wilayah Kecamatan Langke Rembong dan Kecamatan Wae Rii, Kabupaten Manggarai.
Baca Juga:4.751 Mahasiswa Baru Undiksha, Menteri Brian Dorong Siapkan Masa Depan Selama Kuliah
Bantuan tersebut tidak hanya ditujukan kepada masyarakat umum. Penyalurannya juga menyasar mahasiswa serta santri pondok pesantren yang berada di wilayah penerima bantuan. Mereka menjadi bagian dari kelompok yang mendapatkan bantuan karena ikut merasakan dampak dari bencana yang mengguncang wilayah Flores.
Bantuan 1 ton beras tersebut merupakan bentuk kepedulian dan gotong royong mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Undiksha. Dalam proses penyalurannya, Ismail Nasar dipercaya dan ditunjuk oleh rekan-rekan mahasiswa untuk menjadi perwakilan yang membawa serta menyalurkan bantuan langsung ke wilayah terdampak.
Baca:GEMPA M7,7 BERPOTENSI TSUNAMI, SEJUMLAH WILAYAH NTB MASUK STATUS WASPADA
Kepercayaan tersebut diberikan agar bantuan yang telah dikumpulkan dapat benar-benar sampai kepada pihak yang membutuhkan.
“Teman-teman mempercayakan saya untuk membawa dan menyalurkan bantuan ini langsung kepada saudara-saudara kita di NTT. Bantuan ini bukan milik saya pribadi, tetapi merupakan bentuk kepedulian bersama dari mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan,” ujar Ismail.
Dalam penyalurannya, bantuan beras tersebut dibagikan di sejumlah titik penerima di Kecamatan Langke Rembong dan Kecamatan Wae Rii.
Penerima bantuan terdiri atas masyarakat yang terdampak gempa, mahasiswa, serta santri pondok pesantren. Bantuan diberikan sebagai upaya membantu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari di tengah kondisi pascabencana.
Pemilihan beras sebagai bantuan utama bukan tanpa alasan. Sebagai bahan pangan pokok, beras menjadi salah satu kebutuhan yang paling dibutuhkan masyarakat ketika aktivitas dan kondisi ekonomi terganggu akibat bencana.
Ismail mengatakan, bantuan tersebut memang tidak akan mampu menyelesaikan seluruh persoalan yang dihadapi masyarakat. Namun, ia berharap bantuan sederhana itu dapat meringankan beban penerima.
“Jumlah satu ton ini mungkin belum seberapa dibandingkan dengan kebutuhan masyarakat yang terdampak. Tetapi kami berharap bantuan ini bisa membantu masyarakat, mahasiswa dan para santri, terutama untuk kebutuhan pangan sehari-hari,” katanya.
Gempa bumi berkekuatan Magnitudo 7,7 mengguncang wilayah NTT pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Gempa tersebut berpusat di sekitar wilayah Nagekeo dan dirasakan kuat di sejumlah daerah di Flores.
Guncangan gempa berdampak terhadap masyarakat dan menyebabkan kerusakan pada sejumlah rumah maupun bangunan. Kondisi tersebut membuat sebagian warga harus menghadapi situasi sulit setelah tempat tinggal dan fasilitas di sekitar mereka terdampak.
Selain kerusakan bangunan, masyarakat juga menghadapi kebutuhan dasar selama masa tanggap dan pemulihan pascabencana.
Kondisi inilah yang kemudian mengetuk kepedulian mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Undiksha untuk ikut mengambil bagian.
Menurut Ismail, solidaritas kemanusiaan tidak seharusnya dibatasi oleh jarak wilayah. Meskipun para mahasiswa berada dalam lingkungan akademik, kepedulian terhadap masyarakat tetap menjadi bagian penting dari pengamalan ilmu.
“Ketika saudara kita mengalami musibah, kita harus ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Tidak harus menunggu menjadi orang besar atau memiliki banyak uang. Sesuai kemampuan kita, kita bisa membantu,” ujarnya.
Ismail juga menekankan bahwa pendidikan pada hakikatnya bukan hanya tentang pencapaian akademik. Pendidikan harus mampu membentuk manusia yang memiliki kepedulian sosial dan kepekaan terhadap lingkungan.
Menurutnya, perjalanan sebagai mahasiswa doktoral tidak hanya berkutat pada penelitian, perkuliahan, publikasi ilmiah maupun penyelesaian disertasi.
“Bagi kami, pendidikan bukan hanya soal gelar. Ada nilai kemanusiaan yang harus kita bawa. Ketika ilmu yang kita pelajari bisa mendorong kita untuk peduli dan membantu orang lain, di situlah pendidikan memberikan manfaat yang lebih luas,” katanya.
Ia berharap aksi tersebut dapat menjadi pemantik bagi lebih banyak pihak untuk ikut membantu masyarakat yang terdampak gempa di NTT.
Proses pemulihan pascabencana membutuhkan waktu dan dukungan dari berbagai pihak. Bukan hanya pemerintah, tetapi juga masyarakat, lembaga pendidikan, organisasi sosial, mahasiswa dan kelompok masyarakat lainnya.
Ismail menyampaikan doa agar masyarakat terdampak gempa diberikan kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi musibah.
“Semoga masyarakat yang terdampak diberikan kekuatan, keselamatan dan ketabahan. Bagi yang rumahnya rusak, semoga segera mendapatkan bantuan dan bisa kembali memiliki tempat tinggal yang layak,” tuturnya.
Ia juga berharap bantuan yang disalurkan ke Langke Rembong dan Wae Rii dapat benar-benar memberikan manfaat bagi para penerima, baik masyarakat, mahasiswa maupun santri pondok pesantren.
Bagi mahasiswa S3 Ilmu Pendidikan Undiksha, penyaluran 1 ton beras tersebut menjadi bentuk sederhana dari solidaritas kemanusiaan.
Di tengah duka akibat gempa, bantuan tersebut menjadi pesan bahwa masyarakat terdampak tidak sendirian. Ada tangan-tangan yang peduli, ada saudara yang datang membantu, dan ada harapan untuk bangkit bersama setelah bencana.
(Bi)
