Lombok Utara — Pemerintah Desa Pemenang Barat menunjukkan komitmen kuat dalam membangun generasi muda yang sehat, cerdas, dan berdaya saing. Melalui kegiatan Penguatan Kapasitas Pengurus Sekolah Lapang yang digelar pekan ini, perhatian utama diarahkan pada dua isu sosial krusial: pencegahan perkawinan anak dan edukasi bahaya narkoba. Kedua persoalan ini masih menjadi tantangan di banyak wilayah, termasuk Lombok Utara.

Kegiatan yang berlangsung satu hari tersebut menghadirkan narasumber dari Universitas Nahdlatul Ulama NTB, yakni akademisi Fakultas Ekonomi, Muhammad Yakub. Para peserta berasal dari pengurus Sekolah Lapang, tokoh pemuda, kader desa, hingga perwakilan organisasi masyarakat lokal. Suasana berlangsung dinamis melalui diskusi, studi kasus, dan simulasi lapangan yang dirancang untuk menguatkan pengetahuan teknis serta keterampilan pendampingan masyarakat.
Menjawab Tantangan Nyata
Di sejumlah wilayah, termasuk Pemenang Barat, perkawinan anak masih ditemui akibat minimnya pendidikan, tekanan ekonomi, serta budaya yang belum sepenuhnya mendukung tumbuh kembang anak. Di sisi lain, penyalahgunaan narkoba menjadi ancaman serius bagi remaja karena lemahnya kontrol sosial serta kurangnya informasi tentang bahaya narkotika.
Kepala Desa Pemenang Barat, melalui perwakilan BPD dan Babinmas, menegaskan perlunya pendekatan yang menyeluruh untuk menangani dua persoalan tersebut.
“Pengurus Sekolah Lapang bukan hanya fasilitator pendidikan, tetapi mitra strategis desa dalam mengawal tumbuhnya generasi muda yang bebas dari perkawinan anak dan penyalahgunaan narkoba,” ujarnya.
Materi Berbasis Lapangan
1. Pencegahan Perkawinan Anak
Materi pertama memaparkan risiko dan dampak perkawinan anak dari aspek kesehatan, psikologis, hingga ekonomi. Peserta juga diajak mengidentifikasi faktor risiko di tingkat desa.
Muhammad Yakub menegaskan bahwa perkawinan anak merupakan persoalan struktural yang memerlukan kerja sama banyak pihak. Peserta berlatih membuat rencana aksi pencegahan, termasuk pembentukan kelompok remaja sadar kesehatan reproduksi, kampanye kreatif, mekanisme rujukan, hingga pembuatan awik-awik desa.
2. Edukasi Bahaya Narkoba
Sesi kedua fokus pada penyalahgunaan narkoba. Peserta mendapatkan penjelasan mengenai jenis-jenis narkoba, pola penyalahgunaan di kalangan remaja, serta tanda-tanda awal seseorang mulai terpapar.
Pengurus Sekolah Lapang diberi keterampilan komunikasi persuasif, teknik penyuluhan kreatif, hingga simulasi penanganan kasus sebagai persiapan menghadapi situasi darurat di masyarakat.
Sekolah Lapang sebagai Pusat Pembelajaran Sosial
Kegiatan ini memperkuat posisi Sekolah Lapang sebagai pusat pendidikan masyarakat di tingkat desa. Selain dikenal sebagai ruang belajar pertanian dan keterampilan teknis, Sekolah Lapang diperluas fungsinya untuk mengangkat isu sosial seperti perlindungan anak dan kesehatan remaja.
Peserta pelatihan sepakat membentuk Tim Aksi Cepat guna mendeteksi potensi kasus perkawinan anak dan peredaran narkoba sejak dini. Sekolah Lapang diharapkan menjadi ruang aman bagi remaja untuk berdiskusi, berkonsultasi, dan memperoleh informasi yang benar.
Antusiasme Masyarakat yang Menguat
Antusiasme masyarakat terlihat dari diskusi kelompok yang berlangsung terbuka. Berbagai gagasan inovatif muncul, antara lain:
-
Program “Remaja Berkarya Tanpa Nikah Dini”
-
Kelas kreatif anti-narkoba berbasis komunitas
-
Layanan konsultasi remaja di Sekolah Lapang
-
Kemitraan dengan masjid dan sekolah untuk monitoring siswa
Partisipasi tokoh agama turut memperkuat upaya desa. Mereka menyatakan kesiapan menyampaikan pesan pencegahan perkawinan anak dan bahaya narkoba melalui kegiatan keagamaan sebagai bagian dari dakwah sosial.
Harapan untuk Masa Depan Anak Muda
Pemerintah Desa Pemenang Barat berharap kegiatan ini menjadi titik awal terciptanya lingkungan yang aman bagi remaja. Pengurus Sekolah Lapang yang telah mendapatkan pelatihan dianggap sebagai modal penting dalam mencegah munculnya kasus yang merugikan masa depan anak.
Pemerintah desa juga berkomitmen mendukung rencana tindak lanjut melalui penyediaan anggaran, fasilitas, dan penguatan kerja sama lintas lembaga. Pendekatan berkelanjutan dinilai penting agar edukasi yang diberikan tidak berhenti pada pelatihan, tetapi terus diterapkan hingga ke tingkat dusun dan keluarga.
Kegiatan penguatan kapasitas ini menjadi contoh nyata bahwa desa memiliki peran strategis dalam menangani persoalan sosial yang sering dianggap kompleks. Melalui pemberdayaan dan edukasi masyarakat, Pemenang Barat menunjukkan bahwa perubahan besar dapat dimulai dari komunitas kecil.