Ketika Dunia Bergejolak, Pariwisata NTB Diajak ke Arah Mana? Ketua SAPANA Rudi Pertanyakan Sikap Pemerintah NTB

Avatar of lpkpkntb
Furqan Ermansyah alias Rudy Lombok
Furqan Ermansyah alias Rudy Lombok

Mataram – lpkpkntb.com – Ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel yang kembali memanas bukan hanya menjadi isu kawasan Timur Tengah, tetapi juga mulai terasa dampaknya hingga ke sektor strategis daerah, termasuk pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB). Ketua SAPANA Lombok, Rudi, menilai bahwa situasi global seperti ini seharusnya menjadi alarm sekaligus peluang bagi daerah untuk memperkuat strategi, bukan justru terjebak dalam ketidakpastian arah kebijakan.

Baca:

Shalat Idul Fitri 2026 di NTB Dipusatkan di Lapangan Bumi Gora, Gubernur Gelar Open House untuk Masyarakat

Menurut Rudi, konflik Iran–Israel berpotensi memengaruhi arus wisatawan internasional, terutama dari kawasan Eropa dan Timur Tengah yang selama ini menjadi pasar penting bagi pariwisata NTB. Ketidakstabilan global biasanya berdampak langsung pada psikologi wisatawan, yang cenderung menunda perjalanan atau memilih destinasi yang dianggap lebih aman dan stabil.

“Ini bukan sekadar konflik regional, tapi berdampak global. Pariwisata NTB pasti terkena imbas, baik dari sisi kunjungan wisatawan maupun kepercayaan pasar. Pertanyaannya, apakah kita siap menghadapi situasi ini?” tegas Rudi.

Ia kemudian menyoroti narasi besar yang selama ini digaungkan pemerintah daerah, yakni “NTB Mendunia”. Menurutnya, slogan tersebut perlu diuji dalam situasi krisis global seperti sekarang. Jangan sampai, kata Rudi, istilah mendunia hanya menjadi jargon tanpa kesiapan menghadapi dinamika internasional.

“NTB mendunia itu artinya kita siap bersaing di level global, siap menghadapi krisis global, dan punya strategi mitigasi. Tapi yang kita lihat sekarang, ketika ada gejolak dunia, justru kita seperti tidak punya arah. Ini yang perlu dikritisi,” ujarnya.

Lebih lanjut, Rudi mempertanyakan langkah konkret pemerintah provinsi, khususnya gubernur, dalam merespons kondisi ini. Ia menilai belum terlihat adanya kebijakan strategis yang mampu memberikan rasa aman dan kepastian bagi pelaku pariwisata, mulai dari hotel, travel agent, hingga UMKM yang bergantung pada sektor ini.

“Dalam situasi seperti ini, pemerintah seharusnya hadir dengan solusi. Misalnya, diversifikasi pasar wisata, penguatan wisata domestik, atau promosi yang lebih adaptif. Tapi yang kita lihat, belum ada langkah nyata. Lalu kita mau dibawa ke mana pariwisata NTB ini?” kritiknya.

Rudi juga mengingatkan bahwa NTB memiliki potensi besar, mulai dari keindahan alam, budaya, hingga event internasional yang pernah sukses digelar. Namun tanpa strategi yang tepat, potensi tersebut bisa tergerus oleh situasi global yang tidak menentu.

Ia menilai ada dua pilihan besar yang dihadapi NTB saat ini: memanfaatkan momentum atau justru tertindas oleh keadaan. Dalam pandangannya, krisis global sebenarnya bisa menjadi peluang jika dikelola dengan cerdas. Misalnya, dengan menargetkan wisatawan dari negara yang tidak terdampak langsung konflik, atau mengembangkan konsep pariwisata berbasis ketenangan dan spiritual yang relevan dengan kondisi dunia yang sedang tidak stabil.

“Di tengah konflik global, banyak orang mencari tempat yang aman, damai, dan menenangkan. NTB punya semua itu. Tapi apakah kita mampu mengemas dan mempromosikannya? Atau kita hanya menunggu dan berharap situasi membaik?” ujarnya.

Selain itu, ia juga mendorong adanya kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan masyarakat dalam merumuskan strategi bersama. Menurutnya, pariwisata tidak bisa hanya bergantung pada pemerintah, tetapi membutuhkan sinergi semua pihak agar tetap bertahan bahkan berkembang di tengah krisis.

Rudi juga menekankan pentingnya komunikasi publik yang kuat. Dalam era digital saat ini, citra daerah sangat ditentukan oleh bagaimana informasi disampaikan ke dunia luar. Jika tidak ada narasi yang jelas dan meyakinkan, maka NTB bisa kalah bersaing dengan destinasi lain yang lebih agresif dalam membangun citra positif.

“Jangan sampai NTB hanya jadi penonton dalam percaturan global. Kita harus punya posisi, punya narasi, dan punya strategi. Kalau tidak, ‘NTB Mendunia’ hanya akan jadi slogan kosong,” tegasnya.

Di akhir pernyataannya, Rudi berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kebijakan pariwisata, khususnya dalam menghadapi dinamika global. Ia juga mengajak semua pihak untuk tidak hanya mengkritik, tetapi juga berkontribusi dalam mencari solusi.

“Ini bukan soal menyalahkan, tapi soal masa depan. Pariwisata adalah tulang punggung ekonomi NTB. Kalau tidak dikelola dengan serius, kita yang akan menanggung dampaknya. Jadi, sekarang saatnya kita bertanya: kita mau memanfaatkan situasi ini, atau justru tertindas olehnya?” pungkas Rudi.