lpkpkntb.com- Dalam momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional 2025, Aliansi Pejuang Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) menyerukan kepada pemerintah agar segera memenuhi kuota Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) yang mengalami pemangkasan drastis sejak 2024. Seruan ini ditujukan kepada Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Kebudayaan, serta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Baca:Negara Kaya, Tapi Dosen Swasta Masih Bertahan Hidup dari SPP, Apa Kabar Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI)?
“Kami hanya ingin keadilan bagi para pendidik dan pelaku budaya yang telah berjuang masuk seleksi, menggantungkan harapan pada beasiswa ini, namun kemudian ditinggalkan oleh sistem,” tegas Maria Yohana Esti Wijayati, anggota DPR RI sekaligus pengusung aspirasi BPI.
Aliansi menyampaikan bahwa situasi darurat kini tengah dihadapi para dosen, guru, dan pelaku budaya yang telah lolos seleksi tahap awal dan sedang menempuh pendidikan S2 dan S3. Mereka kuliah secara mandiri sejak semester ganjil 2024, dan sebagian besar telah meninggalkan pekerjaan atau bahkan merelokasi keluarga dengan harapan akan memperoleh bantuan beasiswa dari negara.
Baca Ini:Astaga!! KPK Bongkar Dosen Bolos Ngajar, Pemerintah Tak Tinggal Diam
Kenyataan Pahit di Lapangan
Dalam pengumuman Oktober 2024, hanya 194 penerima dinyatakan lolos dari lebih dari 2.500 pendaftar se-Indonesia. Padahal, jumlah ini sangat bertolak belakang dengan pagu anggaran dan janji awal dalam sosialisasi program.
Beberapa dampak nyata yang dialami para pejuang BPI antara lain:
-
Mengambil pinjaman online (pinjol) demi menutupi biaya kuliah dan hidup sehari-hari.
-
Menjual aset pribadi seperti sepeda motor, emas, hingga peralatan rumah tangga.
-
Menanggung tekanan psikologis karena merasa dikhianati oleh negara.
-
Merasa gagal sebagai tulang punggung keluarga, meskipun mereka adalah ujung tombak pendidikan dan pelestarian budaya.
“Negara jangan hanya bangga pada prestasi pendidikan, tetapi meninggalkan mereka yang berkorban untuk mencapainya. Kami minta Presiden dan para menteri terkait membuka mata,” ujar Rahmat Hidayat, koordinator nasional Aliansi Pejuang BPI.
Harapan Kepada Pemerintah
Aliansi menegaskan bahwa langkah pemenuhan kuota beasiswa ini akan menjadi indikator keseriusan pemerintah dalam menjalankan Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya dalam menjamin kesejahteraan pendidik dan menciptakan pendidikan terjangkau dan berkualitas.
Aliansi juga membuka ruang dialog dengan kementerian terkait dan menyerukan dukungan dari masyarakat sipil, organisasi profesi, serta anggota parlemen untuk mengawal isu ini.
Untuk informasi lebih lanjut dan dokumentasi kisah para pejuang BPI, silakan kunjungi:
https://www.instagram.com/p/DJOjQl1hWEx/?igsh=dnYxbmhxM3h0cTVv
