GURU HEBAT, INDONESIA KUAT: PW PERGUNU NTB Nobatkan Tuan Guru sebagai Pahlawan Dunia-Akhirat dan Pilar Bangsa

Avatar of lpkpkntb
Keterangan foto: Pengurus dan anggota Pergunu NTB mengikuti doa bersama dan diskusi Hari Guru di Lombok Tengah.
Keterangan foto: Pengurus dan anggota Pergunu NTB mengikuti doa bersama dan diskusi Hari Guru di Lombok Tengah.

Lombok Tengah, – Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) di Nusa Tenggara Barat (NTB) tahun ini berlangsung istimewa dengan penegasan peran Tuan Guru NU sebagai sosok “Pahlawan Dunia-Akhirat” dan “Guru Hebat yang Mencerdaskan Generasi”. Melalui diskusi yang diselenggarakan oleh PW Pergunu NTB, para peserta sepakat bahwa kontribusi ulama di Lombok menjadi pilar penting dalam membangun kekuatan bangsa.

Dalam kesempatan tersebut, Dr. Baiq Mulianah, M.Pd.I., menyampaikan pandangannya tentang kemuliaan profesi guru. Beliau mengatakan, “Guru mulia karena karya,” sambil mengutip hadits al-ulama warasatul anbiya untuk menegaskan bahwa ulama sejatinya adalah guru. Dr. Baiq juga menyoroti pentingnya kesejahteraan bagi guru, namun beliau menegaskan bahwa guru sebaiknya fokus pada perjuangan, bukan pada upah. Menurutnya, tugas lembaga dan pemerintah adalah memastikan kesejahteraan guru. Ia menambahkan keyakinan bahwa siapa pun yang berjuang menuntut ilmu, Allah akan mencukupkan rezekinya.

Lebih jauh, Dr. Baiq mengajak para guru untuk kembali pada khittah pendidikan dan melihat murid dengan “kacamata Rahmat” atau yandzuru bianiirahmah. Ia kemudian menjelaskan tiga fungsi utama pendidikan Islam yang mencetak pahlawan dunia-akhirat, yaitu Tarbiyah sebagai proses mendidik jiwa dan potensi, Ta’lim sebagai upaya mengajarkan ilmu, dan Ta’dib sebagai proses membentuk manusia beradab melalui akhlak dan etika.

Sesi diskusi dilanjutkan dengan pemaparan dari Habib Maani, S.Ag. dan Yusuf Tantowi yang mengurai peran Tuan Guru NU Lombok. Habib Maani menggambarkan Tuan Guru sebagai pemimpin kharismatik dan teladan masyarakat. Selain menguasai ilmu-ilmu agama seperti Fiqih, Balagah, dan Mantik, Tuan Guru masa kini juga dituntut mampu menyelesaikan berbagai konflik, mulai dari persoalan individu dan keluarga hingga persoalan yang bersinggungan dengan hukum Islam. Menurutnya, Tuan Guru juga harus adaptif terhadap perkembangan zaman agar pendidikan yang diberikan tetap relevan.

Yusuf Tantowi kemudian merangkum peran penting Tuan Guru ke dalam tiga pilar kekuatan. Ia menjelaskan bahwa Tuan Guru adalah pahlawan dunia-akhirat karena menjadi pemandu spiritual, penjaga moral, dan pengikat harmoni umat melalui ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah. Selain itu, Tuan Guru disebut sebagai guru hebat yang mencerdaskan generasi melalui pendidikan di pesantren NU yang menanamkan ilmu, karakter, nasionalisme, toleransi, dan kecintaan terhadap tanah air. Yusuf juga menyebut Tuan Guru sebagai penguat sosial dan penjaga kearifan lokal karena perannya dalam mendamaikan konflik, menggerakkan kegiatan sosial, serta melestarikan tradisi seperti sopan santun, gotong royong, barzanji, roah, dan selamatan.

Menjelang akhir diskusi, Yusuf Tantowi menyampaikan dorongan kuat untuk mengusulkan Tuan Guru Saleh Hambali sebagai Pahlawan Nasional. Ia menilai tokoh yang pernah didatangi langsung oleh Soekarno dan Bung Hatta itu sangat pantas mendapat pengakuan negara. Menurutnya, bukti pendukung berupa kitab dan manuskrip mengenai beliau sudah tersedia dan tinggal dikumpulkan secara sistematis.

PW Pergunu NTB menutup rangkaian diskusi dengan penegasan bahwa peran Tuan Guru dalam pendidikan, kedamaian, dan pembinaan umat merupakan energi vital bagi kekuatan nasional. Mereka menyatakan bahwa kiprah Tuan Guru NU di Lombok berkontribusi besar terhadap terbangunnya Indonesia yang kuat secara spiritual, moral, dan sosial, sejalan dengan tema Hari Guru Nasional 2025: Guru Hebat, Indonesia Kuat.