Menjernihkan Hati dengan Kebaikan, Sebelum Terlambat

Suasana Kampung Nelayan Desa Kuta, Lombok Tengah, yang menjadi bagian penting dalam narasi pembangunan hijau dan ekonomi pesisir NTB
Dok: Suasana Kampung Nelayan Desa Kuta, Lombok Tengah, yang menjadi bagian penting dalam narasi pembangunan hijau dan ekonomi pesisir NTB

MATARAM – Dalam kehidupan yang semakin sibuk dan penuh kegelisahan, manusia sering kali terjebak pada prasangka, rasa kecewa, dan penilaian buruk terhadap sesama. Hati yang tertutup oleh pikiran negatif akan sulit melihat cahaya kebaikan yang sebenarnya sangat dekat. Karena itu Islam mengajarkan agar manusia terus membersihkan hati, memperbanyak amal saleh, dan menjaga prasangka baik, sebab kematian dapat datang kapan saja tanpa tanda.

Selembar daun memang tidak akan mampu menutupi bumi yang luas. Namun ketika daun kecil itu menempel tepat di pelupuk mata, maka pandangan terhadap luasnya bumi menjadi hilang. Begitulah gambaran hati manusia. Bukan dunia yang sempit, melainkan hati dan pikirannyalah yang sedang tertutup. Saat kebencian, iri hati, dendam, dan prasangka buruk menempel di dalam dada, maka seluruh kebaikan yang ada di sekitar akan lenyap dari pandangan. Orang baik dianggap salah, nasihat dianggap hinaan, bahkan pertolongan dipandang sebagai ancaman.

Islam sejak awal telah mengingatkan manusia agar menjaga hati dari penyakit buruk semacam itu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ﴾
“Wahai orang orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.”
(QS. Al Hujurat: 12)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa prasangka buruk bukan perkara ringan. Banyak hubungan persaudaraan rusak karena hati yang dipenuhi curiga. Banyak keluarga hancur karena buruk sangka. Bahkan tidak sedikit manusia kehilangan ketenangan hidup karena terlalu sibuk melihat keburukan orang lain, sementara lupa memperbaiki dirinya sendiri.

Kadang seseorang merasa dirinya paling benar hanya karena melihat kesalahan kecil pada orang lain. Padahal boleh jadi dirinya sendiri sedang tenggelam dalam dosa yang lebih besar. Hati yang bersih akan mudah melihat kebaikan, sedangkan hati yang kotor akan selalu menemukan alasan untuk membenci. Karena itu para ulama dahulu lebih sibuk menangisi dosa sendiri daripada mencari aib orang lain.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

« إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ، فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ »
“Jauhilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Betapa banyak manusia yang awalnya hidup tenang, lalu menjadi gelisah karena pikirannya sendiri. Ia menuduh tanpa bukti, marah tanpa alasan, dan membenci tanpa kejelasan. Padahal Islam mengajarkan tabayyun, meneliti kebenaran sebelum menilai seseorang. Hati yang tenang lahir dari iman, sedangkan hati yang dipenuhi prasangka hanya akan melahirkan kelelahan batin.

Karena itu teruslah berbuat baik sekecil apa pun. Jangan menunggu menjadi sempurna untuk memberi manfaat kepada orang lain. Senyuman tulus, ucapan lembut, membantu orang kesusahan, menahan amarah, memaafkan kesalahan, semuanya adalah amal yang sangat dicintai Allah. Kadang manusia meremehkan amal kecil, padahal justru amal kecil yang ikhlas menjadi penyelamat di akhirat.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿ فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ﴾
“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.”
(QS. Az Zalzalah: 7)

Ayat ini menenangkan hati orang orang yang mungkin merasa amalnya sedikit. Dalam pandangan manusia mungkin kecil, tetapi di sisi Allah bisa sangat besar. Seteguk air yang diberikan kepada orang haus, doa yang dipanjatkan diam diam untuk saudara sesama muslim, atau kesabaran menahan sakit hati karena Allah, semuanya tidak pernah hilang dari catatan malaikat.

Kematian adalah rahasia terbesar yang tidak diketahui manusia. Tidak ada yang tahu kapan napas terakhir akan berhenti. Ada orang yang pagi hari masih tertawa, sore harinya sudah terbujur kaku. Ada yang memiliki banyak rencana, namun tak sempat menyelesaikannya. Karena itu jangan menunda taubat dan jangan lelah berbuat baik.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

« اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ »
“Manfaatkan lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum datang masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.”
(HR. Al Hakim)

Orang yang sadar bahwa hidup hanya sementara akan lebih mudah memaafkan. Ia tidak ingin membawa kebencian sampai ke liang kubur. Ia memilih memperbanyak istighfar daripada memperpanjang permusuhan. Sebab pada akhirnya yang menemani manusia di alam kubur bukan harta, jabatan, atau pujian manusia, melainkan amal dan rahmat Allah.

Di tengah kerasnya kehidupan, jangan biarkan hati menjadi gelap. Tetaplah menjadi manusia yang menebarkan kebaikan meskipun sering disalahpahami. Jangan berhenti menolong hanya karena pernah dikecewakan. Jangan berhenti tulus hanya karena pernah dimanfaatkan. Sebab sesungguhnya Allah melihat semua yang tersembunyi di dalam hati.

Allah berfirman:

﴿ إِنَّ اللَّهَ لَا يُضِيعُ أَجْرَ الْمُحْسِنِينَ ﴾
“Sesungguhnya Allah tidak menyia nyiakan pahala orang orang yang berbuat baik.”
(QS. At Taubah: 120)

Maka jika hari ini hati terasa sempit, dekatkan diri kepada Allah. Perbanyak munajat di sepertiga malam. Menangislah dalam sujud, karena tidak ada tempat kembali paling menenangkan selain kepada-Nya. Bisa jadi manusia menolak kita, tetapi Allah tidak pernah menutup pintu ampunan bagi hamba yang datang dengan penuh penyesalan.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

« كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ »
“Setiap anak Adam pasti banyak melakukan kesalahan, dan sebaik baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat.”
(HR. Tirmidzi)

Tidak ada manusia tanpa dosa. Namun kehancuran terbesar bukanlah banyaknya dosa, melainkan ketika hati sudah tidak lagi merasa bersalah dan enggan kembali kepada Allah. Selama napas masih ada, pintu taubat masih terbuka. Karena itu jangan putus asa dari rahmat-Nya.

Salam bermunajat. Semoga Allah melembutkan hati kita, membersihkan pikiran dari prasangka buruk, memudahkan langkah dalam kebaikan, menjaga lisan dari menyakiti sesama, dan mengampuni dosa dosa kita sebelum datang hari ketika penyesalan tidak lagi berguna. Semoga saat kematian datang, kita dipanggil dalam keadaan hati yang tenang, wajah yang berseri, dan amal yang diterima di sisi-Nya. Aamiin.

Penulis: (Muhtadi)