Jakarta – Banyak orang menilai kekayaan dari gaya hidup seperti mobil mewah, pakaian bermerek, atau rumah besar. Namun sebuah penelitian terbaru mengungkap hal mengejutkan: status sosial dan kondisi finansial seseorang ternyata bisa terbaca dari wajah.
Baca:CPNS 2026 Dibuka! Menpan RB Bocorkan 160 Ribu Formasi, Ini Jadwal Lengkap Seleksinya
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology menyebutkan, ekspresi wajah yang terbentuk sepanjang hidup dapat memengaruhi cara orang lain menilai seseorang, termasuk menebak apakah ia berasal dari kelas sosial atas atau pekerja.
Peneliti R-Thora Bjornsdottir mengatakan, perbedaan kelas sosial dapat terlihat bahkan ketika seseorang tidak sedang menunjukkan ekspresi tertentu.
“Hubungan antara kekayaan dan kelas sosial sudah sering diteliti, tetapi riset ini menunjukkan perbedaan tersebut bisa tampak dari wajah,” ujarnya, dikutip dari CNBC Make It.
Orang Kaya Cenderung Lebih Bahagia
Studi tersebut menemukan bahwa individu dengan kondisi finansial stabil umumnya memiliki tingkat stres lebih rendah. Hal ini memengaruhi ekspresi wajah secara perlahan, sehingga membentuk pola yang dapat dikenali.
Sebaliknya, orang yang hidup dalam tekanan ekonomi cenderung menyimpan ketegangan emosional. Ketegangan itu dapat membentuk garis halus dan struktur wajah tertentu.
Uji Coba Pakai 160 Foto Wajah Netral
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan 160 foto hitam putih dengan ekspresi netral yang terdiri dari 80 pria dan 80 perempuan. Separuh foto berasal dari kelas sosial atas, sementara separuh lainnya dari kalangan pekerja.
Foto-foto tersebut kemudian ditunjukkan kepada responden dan mereka diminta menebak status sosial setiap orang hanya berdasarkan wajah.
Hasilnya, sebanyak 68 persen tebakan responden benar, jauh lebih tinggi dibanding peluang acak. Bahkan, tingkat akurasi tetap tinggi meski foto hanya memperlihatkan bagian mata atau mulut.
Stres dan Emosi Bisa Membentuk Wajah
Salah satu peneliti, Nicholas O. Rule, menjelaskan bahwa wajah manusia menyimpan pola emosi yang terbentuk dari kebiasaan ekspresi sepanjang hidup.
Kontraksi otot wajah yang sering terjadi karena stres atau kebahagiaan dapat membentuk struktur halus pada wajah.
“Persepsi kelas sosial berbasis wajah mungkin memiliki konsekuensi penting. Orang sering membicarakan siklus kemiskinan, dan ini bisa menjadi salah satu penyebabnya,” kata Rule.
Bisa Memicu Bias Sosial
Meski demikian, peneliti mengingatkan bahwa temuan ini bisa memicu bias dan perlakuan tidak adil. Orang dengan “wajah kaya” berpotensi mendapat perlakuan lebih baik, sementara mereka yang dianggap miskin bisa lebih mudah diremehkan.
Penelitian ini memperkuat dugaan bahwa stigma sosial tidak hanya muncul dari gaya hidup, tetapi juga bisa terbentuk dari penilaian cepat terhadap wajah seseorang.
