NTB — Minimnya jumlah dokter bedah perempuan di Nusa Tenggara Barat (NTB) kembali mencuat sebagai persoalan serius dalam layanan kesehatan daerah. Meski kebutuhan tenaga spesialis terus meningkat tiap tahun, data resmi dari Dinas Kesehatan Provinsi NTB menunjukkan bahwa ketersediaan dokter spesialis termasuk dokter bedah masih jauh dari kata ideal. Kondisi ini sekaligus menguatkan dugaan bahwa jumlah dokter bedah perempuan di NTB sangat terbatas.
Berdasarkan Profil Kesehatan Provinsi NTB 2022 (Seksi SDMK Dinas Kesehatan NTB, 2023), tercatat 538 dokter spesialis yang bekerja di rumah sakit se-NTB. Namun, laporan tersebut tidak memisahkan jumlah dokter bedah berdasarkan jenis kelamin, sehingga sulit memastikan secara resmi berapa banyak dokter bedah perempuan yang benar-benar bertugas.
Sementara itu, data dari Satu Data NTB yang bersumber dari Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa total tenaga medis (dokter umum + spesialis) di NTB mencapai lebih dari seribu orang, tetapi kembali tidak ada rincian per jenis kelamin untuk spesialis bedah. Sumber ini menegaskan bahwa pendataan dokter berdasarkan gender dan spesialisasi masih menjadi kelemahan sistem informasi kesehatan daerah.
Meski demikian, indikator lain menunjukkan bahwa keberadaan dokter bedah di NTB terlebih dokter bedah perempuan memang sangat langka. Artikel resmi Dinkes NTB yang dimuat Antara News mengonfirmasi bahwa provinsi ini hanya memiliki 479 dokter spesialis yang aktif saat ini. Rasio dokter bedah pun sangat memprihatinkan, yakni 0,006 per 1.000 penduduk, jauh dari angka ideal nasional.
Kekurangan dokter spesialis ini memperkuat sinyal bahwa tenaga dokter bedah perempuan sangat sedikit, bahkan mungkin bisa dihitung dengan jari.
Mengapa Dokter Bedah Perempuan Sangat Minim?
Fenomena ini tidak hanya terjadi di NTB, tetapi merupakan persoalan nasional bahkan global. Namun, beberapa faktor memperparah keadaan di daerah:
1. Spesialis bedah masih didominasi laki-laki
Secara global dan nasional, bidang pembedahan dikenal sebagai disiplin yang paling banyak diisi dokter laki-laki. Perempuan yang ingin meniti karier di bidang ini sering menghadapi kendala jam kerja panjang, tuntutan fisik tinggi, hingga budaya akademik yang masih bias gender.
2. Fasilitas pendidikan spesialis terbatas di NTB
Banyak dokter yang ingin mengambil spesialisasi terutama bedah harus keluar daerah. Hal ini membutuhkan pendanaan besar dan dukungan keluarga, yang dalam banyak kasus menjadi kendala bagi dokter perempuan.
3. Minimnya mentor atau role model perempuan
Ketiadaan dokter bedah perempuan senior di NTB membuat regenerasi terhambat. Calon dokter perempuan kesulitan menemukan panutan yang dapat memberikan dukungan, pengalaman, dan bimbingan.
4. Beban sosial-budaya
Di beberapa daerah, perempuan masih menghadapi ekspektasi sosial terkait peran domestik yang dianggap tidak selaras dengan jam kerja dokter bedah yang sangat padat.
Perlu Kebijakan Khusus untuk Mendorong Dokter Bedah Perempuan
Berbagai pihak menilai NTB perlu mengambil langkah khusus untuk mengatasi masalah ini. Beberapa usulan mencakup:
-
Beasiswa target untuk perempuan yang ingin mengambil spesialisasi bedah.
-
Program percepatan pendidikan spesialis melalui kerjasama dengan kampus kedokteran nasional.
-
Pendataan tenaga medis berbasis gender dan spesialisasi, agar pemerintah punya dasar kebijakan yang lebih tepat.
-
Peningkatan fasilitas dan insentif untuk menarik dokter bedah perempuan kembali ke NTB setelah menyelesaikan pendidikan.
Tanpa langkah-langkah strategis tersebut, NTB berisiko menghadapi krisis layanan bedah, terutama bagi pasien perempuan yang membutuhkan dokter dengan sensitivitas gender.
Sumber Data Resmi (Dinkes NTB & Lembaga Kredibel)
-
Profil Kesehatan Provinsi NTB 2022 — Dinas Kesehatan NTB (Seksi SDMK, 2023): Menyebut 538 dokter spesialis bekerja di RS se-NTB.
-
Satu Data NTB – Jumlah Tenaga Medis (Sumber: Dinas Kesehatan Provinsi NTB).
-
Antara News – Upaya Mewujudkan Rasio Ideal Dokter Spesialis di NTB: Total 479 dokter spesialis aktif di NTB.
