Lombok Tengah – Fenomena pengunduran diri PPPK paruh waktu kembali menjadi sorotan publik setelah sebuah video memperlihatkan sekelompok pegawai berseragam putih-hitam di salah satu gedung pelayanan di Lombok Tengah. Narasi dalam video tersebut menyebutkan bahwa puluhan PPPK paruh waktu memilih mengundurkan diri karena pekerjaan yang dijalani tidak sesuai dengan ekspektasi awal.
Para pegawai terlihat menunggu antrean dengan raut kelelahan, memicu spekulasi bahwa sebagian dari mereka memutuskan mundur setelah merasakan beban kerja yang ternyata tidak ringan.
Berdasarkan informasi yang dilansir dari Lombok Daily, Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah sebelumnya mengusulkan NIP untuk 4.548 PPPK paruh waktu. Namun jumlah itu lebih sedikit dari total pendataan awal karena terdapat sejumlah honorer yang tercatat tidak aktif, tidak mengisi DRH, atau mengundurkan diri dalam proses administrasi. Meski tidak secara langsung menyebut “puluhan” dalam konteks mundurnya pegawai yang sudah aktif bekerja, data tersebut menunjukkan bahwa fenomena pengunduran diri PPPK memang terjadi di wilayah tersebut.
Di media sosial, banyak warganet menyebut dugaan ketidaksesuaian ekspektasi sebagai penyebab utama. Sebagian pelamar PPPK paruh waktu mengira beban kerja lebih ringan dibandingkan pegawai penuh waktu. Namun ketika ditempatkan, sejumlah tugas pelayanan dan administrasi ternyata menuntut ritme kerja yang hampir sama dengan pegawai reguler, sehingga menimbulkan tekanan bagi sebagian pegawai baru. Situasi inilah yang memicu munculnya isu pengunduran diri secara serentak sebagaimana dibahas dalam video yang beredar.
