Apa Itu Metu Telu? Falsafah Sasak yang Diam-diam Menyimpan Kunci Pembangunan NTB

blank
Dr. H. Ahsanul Khalik, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTB Periode 2012–2017 dan 2017–2022
Dr. H. Ahsanul Khalik, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah NTB Periode 2012–2017 dan 2017–2022. (Dok. Pribadi)

Oleh: Dr. Ahsanul Khalik

Di banyak sudut Pulau Lombok, jejak adat dan tradisi masyarakat Sasak masih berdiri kokoh, hidup berdampingan dengan perkembangan zaman. Warisan budaya itu bukan sekadar simbol masa lalu, melainkan juga menjadi cara masyarakat memaknai kehidupan. Salah satu konsep yang terus bertahan dan diwariskan turun-temurun adalah Metu Telu, sebuah falsafah lokal yang memuat pandangan kosmologis mendalam tentang asal-usul dan perjalanan hidup manusia.

Dalam keyakinan masyarakat Sasak, Metu Telu berarti “muncul dari tiga”. Maknanya mencakup dua pemahaman utama sekaligus: pertama, tentang tiga jalan reproduksi kehidupan, dan kedua, tentang tiga fase siklus manusia, yakni lahir – hidup – mati. Metu Telu digambarkan sebagai kelahiran kehidupan melalui tiga cara: mentioq (berbenih), mentelok (bertelur), dan menganak (beranak). Sementara itu, dalam siklus hidup manusia, konsep ini menjelaskan bahwa manusia bergerak dalam tiga tahap utama: lahir, menjalani kehidupan, lalu kembali pada kematian. Falsafah ini menegaskan keterikatan manusia dengan leluhur, sesama manusia, dan alam sekitarnya. Kepercayaan lama ini kemudian mengalami adaptasi dengan Islam lokal (Wetu Telu) dan membentuk landasan moral masyarakat Sasak.

Secara antropologis, Metu Telu bukan sekadar menggambarkan fase biologis manusia, melainkan menjelaskan asal-usul seluruh kehidupan. Metu Telu mengajarkan bahwa semua makhluk hidup “muncul” ke dunia melalui tiga sistem reproduksi: menioq (tunas/biji), mentelok (telur), dan menganak (melahirkan). Pemahaman ini memberi dimensi kosmologis pada Metu Telu karena ia menjelaskan bagaimana kehidupan lahir, dijaga, dan pada akhirnya kembali menyatu dengan alam. Dalam beberapa catatan lintas budaya, Wetu Telu juga memandang adanya tiga pintu masuk kehidupan sebagai bukti kebesaran Tuhan dalam mekanisme penciptaan. Konsep ini pun sejalan dengan siklus hidup manusia yang melewati tiga tahap besar (lahir, hidup, mati) dan dirayakan melalui ritual adat seperti ngurisang bayi, pernikahan, hingga upacara kematian.

Metu Telu juga tumbuh melalui proses akulturasi sejarah panjang. Sebelum Islam masuk, masyarakat Sasak mengenal agama lokal Boda yang bercampur dengan unsur animisme dan pengaruh Hindu-Buddha. Masuknya Majapahit membawa pengaruh Hindu-Buddha ke Lombok, kemudian disusul dakwah Islam oleh para wali dari Jawa dan Sulawesi Selatan pada abad ke-16. Islamisasi di Lombok berlangsung bertahap. Metu Telu sebagai bahasa kearifan lokal kemudian dipadukan dengan ajaran Islam lokal yang dikenal sebagai Wetu Telu. Bukti lapangan menunjukkan masyarakat Bayan, misalnya, tetap mempertahankan simbol “tiga” dalam praktik ibadah: mereka menunaikan salat lima waktu sebagaimana Islam pada umumnya, tetapi salat Jumat khusus hanya dilaksanakan sebanyak tiga waktu (Subuh, Magrib, Isya), dan berpuasa hanya tiga hari tertentu dalam sebulan. Dengan demikian, Metu Telu menjadi kerangka kosmologis asli Sasak, sedangkan Wetu Telu adalah bentuk praksis Islam lokal yang menyerap nilai-nilai tersebut.

Bahasa dan identitas budaya Sasak menjadi media penting dalam mentransmisikan nilai Metu Telu. Mahyuni (2007) dan Mulyadi (2014) menegaskan bahwa bahasa daerah, ritual, serta sastra Sasak membentuk kesadaran kolektif dan identitas masyarakat Gumi Sasak. Berbagai riset modern, termasuk kajian tentang Kemidi Rudat dan tradisi Presean, memperlihatkan bahwa nilai Sasak berupa kepatuhan adat, gotong royong, serta penghormatan terhadap alam masih dijunjung tinggi sebagai pedoman sosial. Di sinilah Metu Telu berfungsi sebagai falsafah inti, karena ia mengajarkan bahwa kehidupan individu tidak berdiri sendiri, melainkan selalu terhubung dengan leluhur, masyarakat, dan alam.

Aplikasi Metu Telu dalam Konteks Modern NTB: Kebijakan Publik Berbasis Kearifan Lokal

Pertunjukan musik tradisional Sasak kerap ditampilkan dalam acara budaya seperti Pesona Budaya Pengadangan, yang pada tahun 2025 mengangkat tema “Metu Telu: Nafas Harmoni di Tanah Sasak”. Dalam pemberitaan Lombok Post, Wakil Bupati Lombok Timur memuji integrasi layanan publik dalam festival ini. Acara tersebut menyediakan cek kesehatan gratis dan layanan administrasi kependudukan seperti pembuatan KTP, KK, serta akta kelahiran secara terpadu. Bahkan, pembuatan akta kematian, pendaftaran BPJS Ketenagakerjaan, hingga donor darah turut digelar di lokasi acara. Gambaran ini menunjukkan bagaimana Metu Telu dapat dimanfaatkan sebagai narasi kebijakan: budaya tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi jembatan spiritual dan sosial yang mendekatkan pelayanan pemerintah dengan masyarakat.

Secara konseptual, Metu Telu memberi dimensi spiritual-etis, sosial, dan ekologis dalam tata kelola publik. Layanan publik dipandang sebagai amanah ilahi, sehingga pelayanan yang baik diposisikan sebagai bentuk ibadah (dimensi hubungan manusia dengan Tuhan). Dalam aspek sosial, kebijakan diarahkan untuk memperkuat gotong royong dan solidaritas yang menjadi karakter masyarakat Sasak. Program berbasis masyarakat seperti posyandu keluarga, pendampingan kelompok rentan, atau pemberdayaan UMKM dapat terinspirasi dari nilai Metu Telu yang menekankan saling menghormati dan tolong-menolong. Dalam aspek ekologis, Metu Telu mendorong pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan, mulai dari spatial planning pro-konservasi, pengakuan hutan adat, hingga perlindungan mata air dan pesisir sebagai bagian dari kewajiban moral. Masyarakat diajak memahami bahwa siapa yang merusak alam, berarti merusak keseimbangan hidupnya sendiri. Dengan begitu, rehabilitasi hutan, pertanian organik, dan mitigasi bencana tidak hanya dipandang sebagai urusan teknis, tetapi juga implementasi nilai lokal. Metu Telu berpotensi memperkuat visi pemerintahan “Religius – Maju – Berbudaya” dan mendorong pembangunan yang bersinergi dengan kearifan Sasak.

Pendidikan Budaya dan Moderasi Beragama

Metu Telu juga dapat dijadikan bahan muatan lokal dalam pendidikan untuk mengembangkan moderasi dan karakter generasi muda. Di sekolah dan pesantren Lombok, nilai Sasak seperti tanggung jawab sosial, toleransi, serta etika lingkungan dapat ditanamkan melalui kegiatan ekstrakurikuler seperti tari Rudat, Presean, dan pameran budaya. Dalam kurikulum pesantren, Metu Telu dapat dijelaskan sebagai falsafah hidup yang selaras dengan maqasid syariah, misalnya pelestarian agama (ḥifẓ ad-dīn), jiwa (ḥifẓ an-nafs), dan lingkungan (ḥifẓ al-mal dan al-ʿaql).

Di sekolah umum, cerita Metu Telu dapat digunakan untuk memperkuat pendidikan karakter. Melalui muatan lokal, anak-anak diajarkan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan (ibadah, doa) dan hubungan manusia dengan alam (penghormatan tanah dan air) adalah satu paket nilai. Pendekatan berbasis budaya ini penting dalam konteks moderasi karena Metu Telu dapat menjadi bahasa budaya yang menginternalisasi nilai universal seperti hak hidup, hak anak, dan kepedulian lingkungan tanpa terkesan menggurui agama. Dengan demikian, generasi muda Sasak tidak hanya mengenal ritual adat, tetapi juga memahami filosofi yang menghubungkan spiritualitas dan etika sosial.

Pembangunan Berkelanjutan dan Ekologis

Aktivitas seperti menenun di alam terbuka mencerminkan hubungan erat masyarakat Sasak dengan lingkungannya. Filosofi Metu Telu menempatkan manusia sebagai bagian dari siklus alam, bukan penguasa alam. Sebagaimana dinyatakan dalam publikasi AMAN, Tuhan menciptakan alam untuk dikelola manusia; jika alam dirusak, bencana datang sebagai azab. Prinsip ini kini dapat diadaptasi dalam pembangunan NTB. Program rehabilitasi daerah aliran sungai (DAS), penanaman pohon, dan pengelolaan agraria berkelanjutan dapat dikomunikasikan sebagai bentuk penjagaan titipan leluhur. Masyarakat pun diajak memahami bahwa deforestasi atau over-eksploitasi lahan bukan sekadar persoalan teknis, tetapi juga pelanggaran tatanan spiritual karena menunjukkan pergeseran budaya dari nilai harmoni.

Implikasi Metu Telu dalam isu pangan dan mitigasi bencana juga nyata. Prinsip pemuliaan siklus kehidupan memperkuat praktik pertanian organik dan agroforestry tradisional yang memandang tanaman dan ternak sebagai bagian komunal, bukan hanya komoditas. Di NTB, narasi lokal ini dapat digunakan untuk mendorong kedaulatan pangan desa dan pelatihan pertanian organik, terutama di kalangan generasi muda Sasak. Dalam mitigasi bencana dan adaptasi iklim, pesan Metu Telu dapat dipadukan dalam komunikasi risiko: banjir atau longsor bukan hanya akibat faktor alam, tetapi juga akibat manusia melupakan harmoni yang diajarkan adat. Karena itu, prinsip Metu Telu dapat dijadikan landasan nilai dalam perencanaan wilayah seperti RZWP3K dan RTRW, serta dalam edukasi kebencanaan, menegaskan bahwa melindungi alam merupakan bagian dari pengabdian spiritual dan sosial.

Metu Telu membantu masyarakat Sasak memaknai hidup sebagai siklus kesadaran yang holistik, menghubungkan aspek religius, sosial, dan ekologis. Konsep ini lahir dari tradisi lokal, berakulturasi dengan pengaruh Hindu-Buddha dan Islam, lalu direvitalisasi dalam praktik kontemporer. Melalui kemasan acara budaya dan pendidikan, Metu Telu menjadi bahasa budaya yang efektif untuk menyampaikan nilai keberlanjutan, kemanusiaan, dan keseimbangan.

Integrasi konsep Metu Telu dalam pelayanan publik, seperti yang terlihat pada Pesona Budaya Pengadangan, menunjukkan bahwa kearifan lokal dapat menjadi fondasi tata kelola yang berbudaya. Sebagai kerangka etika kosmologis, Metu Telu mengajarkan bahwa membangun manusia tidak bisa dipisahkan dari tanggung jawab kepada Tuhan, masyarakat, dan alam. Nilai lama ini tetap relevan untuk membentuk kebijakan dan kesadaran publik di NTB masa kini.***