Penulis: Mujiono Sangputra (Mahasiswa S3 Undiksha) Ngahi Rawi Pahu: Cermin Pendidikan Karakter ala Dompu yang Membekas Seumur Hidup

Avatar of lpkpkntb
Menggali Kearifan Lokal: 'Ngahi Rawi Pahu' sebagai Panduan Teladan dalam Pendidikan Karakter"
Menggali Kearifan Lokal: 'Ngahi Rawi Pahu' sebagai Panduan Teladan dalam Pendidikan Karakter"

Pentingnya Teladan Berwawasan Falsafah “Ngahi Rawi Pahu” dalam Pendidikan Karakter di Sekolah Kabupaten Dompu Pendidikan karakter di Indonesia, khususnya di Kabupaten Dompu, Nusa Tenggara Barat (NTB), memegang peranan yang sangat penting dalam membentuk generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki akhlak yang baik dan dapat mengimplementasikan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Ini:Hari Guru Nasional: Peran Pendidik dalam Mewujudkan Pendidikan Berkualitas untuk SDGs

Salah satu aspek penting dalam pendidikan karakter adalah pemberian teladan oleh para pendidik dan tokoh masyarakat.

Di Kabupaten Dompu, falsafah lokal “Ngahi Rawi Pahu” memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam membentuk karakter siswa.
Apa Itu “Ngahi Rawi Pahu”?
“Ngahi Rawi Pahu” adalah sebuah falsafah yang berkembang di kalangan masyarakat Dompu. Secara harfiah, “Ngahi” berarti “saya” dan “Rawi Pahu” berarti “menunjukkan jalan yang benar”.

Secara keseluruhan, falsafah ini mengandung makna bahwa seseorang harus menjadi teladan dengan menunjukkan jalan yang benar kepada orang lain. Dalam konteks pendidikan karakter, hal ini berarti bahwa setiap individu—baik itu guru, orang tua, atau tokoh masyarakat—harus menjadi contoh yang baik bagi generasi muda dalam menjalani kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai kebaikan, kejujuran, dan saling menghormati.

Teladan sebagai Fondasi Pendidikan Karakter
Pendidikan karakter bukan hanya tentang mengajarkan teori atau nilai-nilai yang tertulis dalam buku teks, tetapi lebih pada bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Teladan menjadi aspek penting dalam proses ini.

Anak-anak dan remaja cenderung meniru perilaku yang mereka lihat dari orang-orang di sekitarnya, terutama orang-orang yang mereka anggap sebagai panutan. Oleh karena itu, para pendidik, orang tua, dan pemimpin masyarakat harus menjadi contoh yang baik dalam mempraktikkan nilai-nilai positif, sehingga anak-anak belajar tidak hanya dari kata-kata, tetapi juga dari tindakan yang mereka amati.

Falsafah “Ngahi Rawi Pahu” mengajarkan bahwa menjadi teladan yang baik adalah salah satu cara yang paling efektif dalam menanamkan pendidikan karakter. Dalam konteks ini, seorang guru di sekolah-sekolah Kabupaten Dompu tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga menunjukkan kepada siswa bagaimana menjalani kehidupan yang penuh tanggung jawab, kejujuran, saling menghargai, dan bekerja keras.

Dengan menerapkan prinsip “Ngahi Rawi Pahu”, seorang guru secara tidak langsung mengajak siswa untuk meniru sikap positif yang mereka tunjukkan, yang akhirnya membentuk karakter siswa tersebut.

Relevansi Ngahi Rawi Pahu dalam Pendidikan di Sekolah
Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai karakter kepada siswa. Dengan mengintegrasikan falsafah “Ngahi Rawi Pahu” dalam kegiatan pembelajaran, sekolah di Kabupaten Dompu dapat mengajarkan kepada siswa tentang pentingnya menjadi pribadi yang baik dan berguna bagi masyarakat. Ini bukan hanya soal mencapai prestasi akademik yang tinggi, tetapi juga bagaimana siswa dapat menjadi individu yang bertanggung jawab, peduli, dan mampu menghargai sesama.

Di sekolah-sekolah Kabupaten Dompu, penerapan falsafah ini bisa dilakukan melalui berbagai cara, antara lain:
1. Pemimpin yang Menjadi Teladan
Kepala sekolah dan guru-guru diharapkan menjadi teladan dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Dengan menerapkan nilai-nilai positif seperti kejujuran, kedisiplinan, dan kerja keras, mereka tidak hanya mengajarkan hal tersebut kepada siswa, tetapi juga menginspirasi mereka untuk mengikutinya.

2. Pembelajaran Berbasis Karakter
Kurikulum pendidikan di sekolah-sekolah Dompu dapat mengintegrasikan nilai-nilai yang terkandung dalam “Ngahi Rawi Pahu”, misalnya dengan mengajarkan siswa untuk selalu memilih jalan yang benar, menunjukkan sikap toleransi, dan memiliki empati terhadap sesama. Pembelajaran tentang nilai-nilai luhur ini bisa disampaikan dalam bentuk cerita, diskusi, dan proyek kolaboratif.
3. Membangun Budaya Sekolah yang Positif
Sekolah yang menerapkan falsafah “Ngahi Rawi Pahu” akan menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuhnya karakter positif pada siswa.

Budaya sekolah yang mengutamakan kejujuran, gotong-royong, dan saling menghargai akan memberikan pengaruh yang besar pada pembentukan karakter siswa.

4. Penerapan dalam Kehidupan Sehari-hari
Selain dalam pembelajaran formal, penerapan “Ngahi Rawi Pahu” juga bisa dilakukan dalam kegiatan ekstrakurikuler atau kehidupan sehari-hari di sekolah, seperti dalam kegiatan gotong royong membersihkan lingkungan sekolah atau dalam interaksi sosial antara siswa.

Dalam hal ini, teladan yang diberikan oleh guru dan staf sekolah sangat berpengaruh terhadap sikap dan perilaku siswa.
Peran Masyarakat dalam Mendukung Pendidikan Karakter
Selain sekolah, masyarakat juga memegang peranan penting dalam mendukung pendidikan karakter di Kabupaten Dompu.

Orang tua, tokoh agama, tokoh adat, dan tokoh masyarakat lainnya perlu turut serta dalam memberikan teladan yang baik dan mendukung penerapan nilai-nilai “Ngahi Rawi Pahu”. Dengan adanya kerjasama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat, pendidikan karakter akan menjadi lebih efektif dan menyeluruh.

Kesimpulan

Pentingnya teladan dalam pendidikan karakter di Kabupaten Dompu tidak dapat dipandang sebelah mata. Falsafah lokal “Ngahi Rawi Pahu”, yang mengajarkan tentang menunjukkan jalan yang benar melalui tindakan nyata, memberikan dasar yang kuat bagi upaya pembentukan karakter siswa. Para pendidik di sekolah-sekolah Kabupaten Dompu, melalui tindakan dan perilaku mereka, memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai moral yang akan membentuk generasi penerus yang tidak hanya pintar secara intelektual, tetapi juga kaya akan karakter dan budi pekerti. Dengan demikian, pendidikan karakter yang berlandaskan pada falsafah “Ngahi Rawi Pahu” akan dapat menciptakan masyarakat yang lebih bermartabat dan bertanggung jawab.