“Ini Bukan Imajinasi, Tapi Berdasarkan Data dan Arah Kebijakan yang Jelas”
Target Pemerintah Provinsi NTB untuk menghapus kemiskinan ekstrem hingga nol persen pada tahun 2029 dinilai sebagai langkah yang sangat realistis. Hal ini ditegaskan langsung oleh Dr. H. Ahsanul Khalik, M.Si, Staf Ahli Gubernur NTB Bidang Sosial Kemasyarakatan, dalam wawancara eksklusif bersama redaksi.
Tren Penurunan Terus Berlanjut
“Kalau kita melihat data dari tahun ke tahun, tren penurunan kemiskinan ekstrem di NTB sangat konsisten. Ini bukan wacana kosong,” jelas Ahsanul Khalik.
Ia merinci data resmi dari tahun 2020 hingga 2024:
-
2020: 296.500 jiwa (5,57%)
-
2022: 176.029 jiwa (3,29%)
-
2023: 143.090 jiwa (2,64%)
-
2024: 110.570 jiwa (2,04%)
“Jadi dalam empat tahun, kita sudah berhasil menurunkan kemiskinan ekstrem sebesar 3,53 persen. Kalau kita konsisten, target nol persen pada 2029 itu sangat mungkin tercapai,” tegasnya.
Basis Data Sudah Sangat Detail: By Name, By Address, By Map
Ahsanul menegaskan bahwa data masyarakat miskin kategori kemiskinan ekstrem di NTB sudah sangat lengkap.
“Datanya by name, by address, bahkan by peta wilayah. Kita tahu siapa orangnya, tinggal di mana, dan kondisi tempat tinggalnya. Ini bukan data kabur. Ini basis kita bekerja,” terang Ahsanul.
Menurutnya, keberadaan data berbasis lokasi yang presisi ini sangat memudahkan perangkat daerah dalam merancang intervensi yang benar-benar tepat sasaran.
Strategi Gabungan: P3KE dan DTSEN
“Sejak 2022, kita sudah mendorong agar seluruh OPD dan pokir legislatif mengalokasikan minimal 50% program menggunakan data P3KE (Penyasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem) dan **50% dari data DTSEN (Data Terpadu Sejahtera dan Rentan Miskin),” jelasnya.
Hal ini menjadi instrumen penting untuk memastikan program tidak hanya besar di anggaran, tapi juga tepat dalam sasaran.
Pemanfaatan Data Jadi Kunci
Menurut Ahsanul, kunci keberhasilan ini adalah penggunaan data yang akurat dan terarah.
“Mulai sekarang, kita dorong semua perangkat daerah dan pokok-pokok pikiran (pokir) anggota dewan untuk menggunakan minimal 50% intervensi berbasis data P3KE (Penyasaran Percepatan Penghapusan Kemiskinan Ekstrem) dan 50% lagi berbasis data DTSEN (Data Terpadu Sejahtera dan Rentan Miskin). Kalau ini dijalankan dengan disiplin, laju penurunannya bisa jauh lebih cepat,” ungkapnya.
Perintah Gubernur: Gerakan Lintas Sektor
Ahsanul juga menyampaikan bahwa Gubernur NTB, Dr. H. Lalu Muhammad Iqbal telah mengamanatkan agar seluruh perangkat daerah bekerja secara lintas sektor untuk mengatasi kemiskinan ekstrem.
“Semua sektor harus bergerak bersama. Gubernur sudah menegaskan ini. Kalau itu dijalankan, progresnya akan makin masif,” jelasnya.
Risiko dan Peluang
Meski demikian, Ahsanul mengingatkan bahwa target ini bisa terdampak oleh kondisi eksternal.
“Kita realistis. Kalau terjadi resesi ekonomi, bencana alam, atau krisis non-alam, itu tentu akan berdampak. Karena masyarakat miskin dan rentan miskin sangat sensitif terhadap guncangan sosial dan ekonomi. Tapi kita juga harus percaya diri,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa NTB justru punya peluang besar jika mampu mengoptimalkan kerja sama dengan pemerintah pusat.
“Kalau perangkat daerah kita bisa mendatangkan program-program penghapusan kemiskinan dari kementerian dan lembaga keuangan daerah, daya ungkitnya luar biasa besar. Ini bukan hanya tanggung jawab daerah, tapi bagian dari gerakan nasional,” tandasnya.
Penutup: Kolaborasi, Konsistensi, dan Optimisme
“Ini bukan soal janji politik atau mimpi kosong. Kita punya datanya, petanya, dan komitmennya. Yang kita butuhkan sekarang hanya satu: konsistensi bersama-sama,” tutup Ahsanul Khalik dengan nada optimistis.
Ia menegaskan kembali, bahwa penghapusan kemiskinan ekstrem di NTB bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tapi merupakan ikhtiar kolektif seluruh elemen masyarakat, baik pemerintah daerah, legislatif, akademisi, dunia usaha, hingga komunitas sosial.
“Dengan kolaborasi yang kuat, insyaAllah kita bisa menyelesaikan tugas sejarah ini: mewujudkan NTB tanpa kemiskinan ekstrem di tahun 2029,” pungkasnya penuh harap.
