BRIDA NTB Gelar Sayembara Riset Peneliti Muda 2026, Menjaring Inovasi Terbaik bagi Pembangunan NTB

Avatar of lpkpkntb
Selasa, 04 Agustus 2026, Kegiatan Sosialisasi Sayembara Riset dan Inovasi Daerah Tahun 2026
Selasa, 04 Agustus 2026, Kegiatan Sosialisasi Sayembara Riset dan Inovasi Daerah Tahun 2026

Lombok Barat – Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Nusa Tenggara Barat resmi memulai Sosialisasi Sayembara Riset dan Inovasi Daerah bagi Peneliti Muda Tahun 2026 di Aula BRIDA NTB, Selasa (4/8/2026).

Program yang diinisiasi Gubernur NTB ini menjadi langkah strategis untuk menghimpun gagasan inovatif dari peneliti muda dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan daerah melalui kolaborasi riset.

Melalui kegiatan ini, BRIDA NTB menetapkan tiga tema prioritas penelitian, yaitu pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan dan energi, serta pariwisata berkelanjutan. Sebanyak 15 proposal terbaik nantinya akan memperoleh pendanaan stimulus sebesar Rp30 juta per proposal, disertai pendampingan oleh Tim Evaluasi hingga tahap implementasi agar hasil riset dapat diterapkan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala BRIDA Provinsi NTB beserta jajaran, Tim Evaluasi Riset dan Inovasi Daerah, pimpinan perguruan tinggi, kepala LPPM, dosen, peneliti muda, perwakilan organisasi perangkat daerah, lembaga riset, komunitas inovasi, serta peserta yang mengikuti kegiatan secara luring maupun daring.

Dalam sambutannya, Kepala BRIDA NTB, I Gede Putu Aryadi, menyampaikan bahwa Sayembara Riset dan Inovasi Daerah merupakan program pertama yang digagas langsung oleh Gubernur NTB dan dipercayakan kepada BRIDA sebagai pelaksana. Menurutnya, pemerintah tidak dapat menyelesaikan seluruh persoalan pembangunan tanpa dukungan berbagai pihak.

“Kami ingin sayembara ini menjadi ruang kolaborasi bagi peneliti muda untuk menghadirkan solusi nyata atas berbagai persoalan pembangunan di NTB. Hasil riset diharapkan tidak berhenti sebagai dokumen ilmiah, tetapi berkembang menjadi inovasi yang dapat diterapkan sebagai dasar pengambilan kebijakan dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Kepala BRIDA NTB.

Ia menambahkan bahwa NTB memiliki potensi riset yang besar dengan ratusan perguruan tinggi, lembaga penelitian, komunitas, serta ribuan hasil penelitian yang telah dihasilkan. Potensi tersebut perlu dihubungkan dengan kebutuhan pembangunan agar menghasilkan inovasi yang berdampak. Karena itu, BRIDA menggandeng akademisi, peneliti, praktisi, dan unsur independen dalam Tim Evaluasi untuk memastikan proses seleksi berlangsung objektif, profesional, dan berorientasi pada hasil.

Sebagai narasumber sekaligus anggota Tim Evaluasi, Khairul Hamim menjelaskan bahwa sayembara riset bukan sekadar kompetisi, melainkan wadah untuk menguji kemampuan peneliti muda dalam menawarkan solusi atas persoalan daerah.

Ia menegaskan bahwa riset yang dihasilkan harus bersifat terapan sehingga mampu menjadi dasar kebijakan maupun menghasilkan inovasi yang dapat dimanfaatkan masyarakat.
Menurut Khairul, tiga tema prioritas dipilih karena berkaitan langsung dengan kebutuhan pembangunan NTB. Pada bidang pengentasan kemiskinan, peserta dapat mengembangkan penelitian mengenai model intervensi, evaluasi program pemerintah, tata kelola desa, dan pemberdayaan masyarakat.

Sementara pada bidang ketahanan pangan dan energi, penelitian diarahkan pada peningkatan produktivitas pertanian, diversifikasi pangan lokal, hilirisasi hasil pertanian, hingga pengembangan energi. Adapun tema pariwisata berkelanjutan mencakup pengelolaan destinasi, penguatan pariwisata berbasis masyarakat, konservasi lingkungan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia sektor pariwisata.

Dalam sesi diskusi, peserta dari Universitas Mataram mengusulkan agar BRIDA menyediakan pedoman teknis yang lebih rinci mengenai penyusunan Rencana Anggaran Biaya (RAB), termasuk ketentuan honorarium, perpajakan, pengadaan barang, dan persyaratan administrasi seperti Surat Pernyataan Tanggung Jawab Mutlak (SPTJM). Menurut peserta, pedoman tersebut penting untuk memberikan kepastian sejak tahap penyusunan proposal.

Perwakilan Peserta dari Universitas Islam Al-Azhar (UNIZAR) juga mengusulkan agar penelitian di bidang kesehatan tetap dapat diakomodasi sepanjang memiliki keterkaitan dengan tiga tema prioritas yang ditetapkan. Usulan tersebut dinilai penting karena isu kesehatan memiliki hubungan erat dengan pengentasan kemiskinan, ketahanan pangan, maupun pengembangan pariwisata berkelanjutan.

Melalui sosialisasi ini, BRIDA NTB berharap semakin banyak peneliti muda berpartisipasi dalam menghasilkan riset yang inovatif, aplikatif, dan mampu mendukung percepatan pembangunan daerah. Program ini sekaligus menjadi wujud komitmen Pemerintah Provinsi NTB dalam memperkuat kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, dan masyarakat untuk mewujudkan pembangunan berbasis riset dan inovasi.