Mataram – Bayangkan sebuah provinsi di mana ribuan anak berhenti sekolah sebelum lulus SMA. Bukan karena mereka tak mau belajar, tapi karena jalur pendidikan tersendat, beasiswa tak jelas, dan biaya hidup makin menekan. Inilah ancaman yang kini membayangi masa depan Nusa Tenggara Barat (NTB).
Baca:Ketua Umum LP-KPK Kukuhkan Kepala Intelijen Nasional dan Dewan Pembina Komnas LP-KPK di Karawang,
Target pendidikan dasar dan menengah NTB dalam RPJMD 2024–2025 terancam meleset jauh. Angka Partisipasi Murni (APM) SMP sederajat tahun 2024 hanya 83,55%, sedangkan SMA/SMK 71,09%—padahal targetnya masing-masing 98,84% dan 95,28%. Rendahnya capaian ini menjadi alarm serius bagi masa depan SDM NTB.
Kondisi ini diperparah dengan masalah keterlambatan pencairan beasiswa luar negeri, minimnya dukungan biaya hidup bagi penerima beasiswa dalam negeri, dan krisis pemerataan guru. Di tengah situasi tersebut, akademisi pendidikan yang tengah menempuh studi S3 Hasbi, S.Pd., M.Or., menegaskan bahwa pemerintah daerah harus bergerak cepat dengan kebijakan yang presisi.
“Kalau transisi SD–SMP–SMA tidak dijaga, banyak anak akan berhenti sekolah di tengah jalan. Intervensinya harus presisi berbasis data kecamatan dan desa,” ujar Hasbi. Ia menambahkan, jika pemerintah ingin kualitas SDM NTB meningkat, beasiswa harus menjadi prioritas mutlak.
Hasbi juga mengingatkan, rakyat sudah membayar pajak untuk pembangunan, termasuk pendidikan.
“Dari rakyat untuk rakyat. Kita bayar pajak, rumah pun kena pajak, sekarang saatnya kita minta kembali dalam bentuk beasiswa yang layak. Jangan sampai dana pendidikan justru tidak berpihak ke anak daerah,” tegasnya.
Tiga Usulan Kunci Hasbi:
-
Amankan transisi SD–SMP–SMA dengan deteksi dini berbasis data desa.
-
Reformasi skema beasiswa: kepastian pencairan, penambahan biaya hidup, dan kanal pengaduan terbuka.
-
Sinkronisasi kebijakan beasiswa dengan target RPJMD pendidikan.
“RPJMD itu bukan sekadar angka di dokumen. Kalau beasiswa tepat sasaran dan transisi sekolah aman, APM bisa naik, RLS akan membaik, dan masa depan pendidikan NTB bisa lebih cerah,” tutup Hasbi.
