Jaga Kearifan Lokal Sasak, Tim PKM Dampingi Perajin Tenun Pringgasela Selatan Kembangkan Pewarna Alami Instan

Tim PKM bersama perajin KUBE SEHATI Desa Pringgasela Selatan.
Dok: Tim PKM bersama perajin KUBE SEHATI Desa Pringgasela Selatan.

LOMBOK TIMUR — Upaya menjaga keberlanjutan tradisi tenun Sasak sekaligus meningkatkan kualitas produk kerajinan terus dilakukan melalui kolaborasi perguruan tinggi dan masyarakat. Salah satunya melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) yang menyasar perajin tenun di Desa Pringgasela Selatan, Kecamatan Pringgasela, Kabupaten Lombok Timur.

Tim dosen dari Universitas Nahdlatul Ulama NTB (UNU NTB) dan Universitas Hamzanwadi melaksanakan kegiatan bertajuk “Pendampingan dan Penguatan Kapasitas Perajin Tenun Desa Pringgasela Selatan dalam Pembuatan Pewarna Alami Instan untuk Meningkatkan Konsistensi Mutu Produk.”

Baca Juga:Riset UNU NTB Menghidupkan Tenun Fetung Bayan: Dari Laboratorium Pigmen Alami ke Cerita Etnolinguistik

Kegiatan tersebut menyasar Kelompok Usaha Bersama (KUBE) SEHATI yang berada di RW Sepakat, Dusun Gubuk Lauk, Desa Pringgasela Selatan.

Program ini didanai melalui Hibah BIMA Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) pada skema Program Pengabdian Masyarakat Reguler.

Tim pelaksana terdiri atas Taufikul Hadi, S.T., M.Eng. dari Universitas Nahdlatul Ulama NTB sebagai ketua tim, bersama dua anggota, yakni Nila Hayati, M.Pd. dari Universitas Hamzanwadi dan Aria Dirawan, M.Ling. dari Universitas Nahdlatul Ulama NTB.

Menjawab Persoalan Pewarnaan

Desa Pringgasela Selatan selama ini dikenal sebagai salah satu kawasan yang memiliki tradisi tenun khas Sasak di Lombok Timur. Aktivitas menenun tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan ekonomi masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempertahankan identitas dan kearifan lokal.

KUBE SEHATI merupakan salah satu kelompok perajin yang aktif memproduksi kain tenun dengan berbagai motif khas daerah.

Namun, di balik potensi tersebut masih terdapat sejumlah tantangan dalam proses produksi. Salah satunya berkaitan dengan proses pewarnaan yang selama ini masih banyak dilakukan menggunakan metode konvensional.

Metode tersebut membuat hasil warna terkadang belum seragam antara satu proses produksi dengan produksi berikutnya. Kondisi itu pada akhirnya dapat berpengaruh terhadap konsistensi mutu kain yang dihasilkan.

Persoalan tersebut menjadi salah satu fokus pendampingan tim PKM.

Tim memperkenalkan teknologi alat ekstraksi pewarna alami instan yang dirancang untuk membantu perajin memperoleh zat warna dari bahan-bahan alami secara lebih praktis dan efisien.

Teknologi tersebut diharapkan dapat membantu perajin menghasilkan pewarna dengan proses yang lebih terukur sehingga konsistensi warna pada produk tenun dapat lebih terjaga.

Pendekatan ini tidak dimaksudkan untuk menggantikan tradisi yang telah berkembang di tengah masyarakat. Sebaliknya, teknologi diperkenalkan sebagai instrumen pendukung agar proses produksi tenun berbasis kearifan lokal dapat semakin efektif tanpa kehilangan karakter tradisionalnya.

**Ketua Tim Pelaksana, Taufikul Hadi, S.T., M.Eng., menjelaskan program pengembangan pewarna alami instan bagi perajin tenun KUBE SEHATI.**
Ket Photo: Ketua Tim Pelaksana, Taufikul Hadi, S.T., M.Eng., menjelaskan program pengembangan pewarna alami instan bagi perajin tenun KUBE SEHATI.

Ketua Tim Pelaksana, Taufikul Hadi, S.T., M.Eng., mengatakan kegiatan tersebut tidak hanya berfokus pada pengenalan alat, tetapi juga pada peningkatan pemahaman perajin mengenai pentingnya konsistensi mutu produk.

“Kami ingin para perajin di Pringgasela Selatan memiliki alat dan pengetahuan yang memadai untuk menghasilkan pewarna alami secara instan, sehingga warna kain yang dihasilkan lebih konsisten dari satu produksi ke produksi berikutnya. Ini penting untuk menjaga kepercayaan pasar terhadap produk tenun mereka,” ujar Taufikul.

Menurut dia, kualitas yang konsisten menjadi salah satu aspek penting ketika produk kerajinan lokal ingin menjangkau pasar yang lebih luas.

Karena itu, penguatan kapasitas perajin menjadi bagian penting dalam kegiatan pendampingan. Teknologi yang diberikan diharapkan tidak berhenti pada kegiatan pelatihan, tetapi dapat digunakan dan dikembangkan secara mandiri oleh kelompok setelah program selesai.

Anggota tim, Nila Hayati, M.Pd., menambahkan, proses pendampingan dilakukan secara partisipatif dengan melibatkan langsung para anggota KUBE SEHATI.

Para perajin tidak hanya menerima penjelasan secara teoritis, tetapi juga mengikuti praktik penggunaan alat, proses ekstraksi pewarna, hingga mendiskusikan berbagai persoalan yang selama ini mereka temui dalam kegiatan produksi.

“Pendampingan ini kami lakukan secara partisipatif, melibatkan langsung anggota KUBE SEHATI mulai dari pengenalan alat, praktik ekstraksi pewarna, hingga diskusi terkait kendala yang biasa mereka hadapi di lapangan. Harapannya, ilmu dan teknologi ini benar-benar melekat dan berkelanjutan,” jelas Nila.

Perpaduan Teknologi dan Kearifan Lokal

Sementara itu, Aria Dirawan, M.Ling., menekankan pentingnya aspek lingkungan dalam pengembangan pewarna alami untuk produk tenun.

Menurut dia, penggunaan bahan pewarna alami yang dipadukan dengan teknologi ekstraksi yang lebih efisien dapat menjadi salah satu langkah untuk mendorong proses produksi yang lebih berkelanjutan.

“Penggunaan pewarna alami yang lebih efisien melalui alat ekstraksi instan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan pada pewarna sintetis, sekaligus tetap mempertahankan nilai-nilai kearifan lokal yang melekat pada kain tenun khas Pringgasela Selatan,” kata Aria.

Pengembangan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa pelestarian tradisi tidak harus berjalan berlawanan dengan pemanfaatan teknologi.

Justru, teknologi dapat ditempatkan sebagai alat untuk memperkuat tradisi, meningkatkan efisiensi produksi, serta membantu produk lokal menghadapi tuntutan mutu pasar.

Perajin Langsung Praktik

Kegiatan pendampingan mendapat sambutan antusias dari para perajin KUBE SEHATI. Dalam pelaksanaannya, para peserta diajak mengikuti setiap tahapan penggunaan alat ekstraksi pewarna alami instan.

Mulai dari persiapan bahan baku, proses ekstraksi zat warna, hingga penerapan pewarna pada benang tenun dilakukan secara langsung bersama para perajin.

Model praktik tersebut diharapkan membuat perajin tidak hanya memahami cara kerja teknologi, tetapi juga memiliki pengalaman langsung dalam menggunakannya.

Dengan demikian, setelah pendampingan berakhir, KUBE SEHATI diharapkan mampu mengoperasikan teknologi tersebut secara mandiri dan mengintegrasikannya dalam proses produksi sesuai kebutuhan.

Lebih jauh, kegiatan ini diharapkan dapat memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas produk, efisiensi proses produksi, serta daya saing kain tenun Pringgasela Selatan.

Produk tenun yang memiliki karakter lokal kuat, ditunjang mutu yang lebih konsisten dan proses produksi yang semakin efisien, dinilai memiliki peluang lebih besar untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

Pada saat yang sama, penggunaan pewarna alami juga dapat memperkuat identitas produk sebagai kerajinan yang tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga membawa pesan tentang pelestarian lingkungan dan kebudayaan lokal.

Melalui program tersebut, kolaborasi Universitas Nahdlatul Ulama NTB dan Universitas Hamzanwadi menunjukkan peran perguruan tinggi dalam mendorong pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal.

Program ini juga menjadi bagian dari implementasi nyata pengabdian kepada masyarakat melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.

Bagi Pringgasela Selatan, pengembangan pewarna alami instan bukan sekadar soal memperbaiki proses produksi. Lebih dari itu, inovasi tersebut diharapkan menjadi bagian dari upaya menjaga warisan tenun Sasak tetap hidup, berkembang, dan memiliki daya saing tanpa kehilangan akar budayanya.

Dengan penguatan kapasitas perajin, pemanfaatan teknologi tepat guna, serta dukungan perguruan tinggi, KUBE SEHATI diharapkan mampu terus mengembangkan produk tenun khas Pringgasela Selatan sekaligus membuka peluang pasar dan meningkatkan nilai ekonomi bagi masyarakat setempat.