Jalan Kabupaten Penujak–Bonder Hancur Bertahun-tahun, Warga: Pajak Kami Ke Mana? Begini Respon Kadis PUPR Lombok Tengah

blank
blank

Praya, Lombok Tengah — Jalan kabupaten yang menghubungkan Desa Penujak dengan Desa Bonder (Dusun Toro) kembali menjadi sorotan tajam masyarakat akibat kerusakan parah yang telah berlangsung bertahun-tahun tanpa perbaikan menyeluruh. Ruas jalan yang menjadi akses utama warga untuk aktivitas ekonomi, pendidikan, hingga layanan kesehatan itu kini dipenuhi lubang besar, bergelombang, serta rawan genangan air saat musim hujan.

Baca:Viral Nomor HP Gubernur NTB: Analisis Mahasiswa Doktoral tentang Batas Keterbukaan Informasi dan Perlindungan Privasi

Warga menilai kondisi jalan tersebut sudah tidak layak dilalui, terutama di titik dekat pekuburan Dusun Toro yang disebut sebagai salah satu lokasi terparah. Kerusakan yang dibiarkan terlalu lama membuat masyarakat merasa kecewa, sebab jalan itu berstatus jalan kabupaten yang seharusnya menjadi prioritas pembangunan.

“Kalau hujan, lubang-lubang itu tertutup air. Banyak pengendara jatuh karena tidak kelihatan lubangnya,” kata seorang warga setempat yang setiap hari melintas. Ia menambahkan, kondisi tersebut bukan hanya mengganggu kenyamanan, namun juga membahayakan keselamatan pengguna jalan.

Kekecewaan warga semakin memuncak karena jalan tersebut sering dilalui oleh pejabat daerah, termasuk anggota legislatif, baik dari tingkat kabupaten maupun provinsi. Namun, warga mempertanyakan mengapa para wakil rakyat yang memiliki fungsi pengawasan anggaran dan pembangunan terkesan diam, seolah tidak melihat kerusakan yang sudah lama menjadi keluhan masyarakat.

“Jalan ini dilewati terus. Kalau memang ada anggota dewan dari daerah sini, kenapa tidak ada yang memperjuangkan?” ujar warga lainnya. Warga menilai, kondisi tersebut seakan menunjukkan lemahnya perhatian terhadap kebutuhan dasar masyarakat, padahal mereka merasa telah menjalankan kewajiban sebagai warga negara termasuk membayar pajak.

Baca ini:LSM-PERS keprihatinan kondisi Jalan rusak  di Beberapa Desa Kabupaten Luwu Utara

Salah satu protes paling menarik perhatian terjadi pada akhir Desember 2025, ketika Kepala Desa Bonder, Selamat Riadi alias Rebe, nekat mandi lumpur di tengah jalan yang rusak sebagai simbol kritik keras terhadap lambannya respon pemerintah daerah. Aksi itu dilakukan di depan kendaraan yang melintas, tepat di tengah kubangan genangan air akibat drainase yang tersumbat. Video aksi tersebut kemudian menyebar luas di internet, ditonton puluhan ribu kali dan dibagikan oleh banyak warganet, hingga menjadi simbol protes warga atas buruknya kondisi infrastruktur yang dianggap terlalu lama diabaikan.

Warga menilai aksi tersebut bukan sekadar sensasi, tetapi cerminan dari kondisi riil yang mereka hadapi setiap hari. Jalan rusak disebut berdampak langsung terhadap kehidupan ekonomi warga, termasuk distribusi hasil pertanian, akses menuju pasar, hingga aktivitas perdagangan masyarakat sekitar.

Menurut keterangan warga dusun Toro, kerusakan jalan ini sudah lama dikeluhkan masyarakat. Ia menyampaikan bahwa warga sudah berkali-kali berharap adanya tindakan nyata dari pemerintah, namun hingga kini perbaikan belum dilakukan secara permanen. Ia juga menyebut bahwa berdasarkan informasi yang diterima masyarakat, jalan tersebut merupakan jalan kabupaten dan telah masuk rencana penanganan.

Sementara itu, keprihatinan warga bahkan berkembang menjadi gerakan swadaya. Dalam grup WhatsApp warga Dusun Toro, muncul rencana untuk melakukan gotong royong sebagai bentuk kepedulian terhadap kondisi jalan yang terus dibiarkan. Sejumlah warga disebut berencana menimbun beberapa titik berlubang dan membersihkan jalur air secara sederhana agar tidak terus tergenang saat hujan. Warga menilai gotong royong tersebut bukan solusi utama, namun dilakukan karena kondisi sudah terlalu lama dibiarkan tanpa kepastian.

Baca:Akibat Jalan Rusak PUPR & DPRD Lombok Tengah Setengah Hati Panggil NK

Di sisi lain, media berupaya mengonfirmasi persoalan ini kepada Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Lombok Tengah. Melalui pesan WhatsApp, Kepala Dinas PUPR Lombok Tengah, Rahadian, menyampaikan bahwa dirinya sedang berada di Jakarta dan meminta media menghubungi Sekretaris Dinas.

“Sy sdg di Jakarta Dik, langsung saja ke Sekdis,” tulis Rahadian dalam pesan WhatsApp pada Selasa (28/4) pukul 09.41 WITA.

Rahadian juga menambahkan bahwa dirinya sedang mengiring agenda pimpinan Bupati Lombok Tengah di Jakarta, sehingga meminta agar konfirmasi diarahkan kepada pejabat teknis terkait.

“Sy sdg iring beliau ini,” lanjutnya.

Media kemudian mencoba menghubungi Sekretaris Dinas PUPR Lombok Tengah, namun hingga berita ini diturunkan belum mendapatkan keterangan resmi. Rahadian dalam pesan lanjutan juga menyarankan agar media mengonfirmasi langsung ke bidang yang menjadi leading sector pekerjaan jalan.

“Nggih coba tyang tanyain ma bidang bina marga nggih, karena leading sektornya di sana,” tulisnya.

Warga berharap pemerintah daerah tidak menunggu persoalan ini kembali viral untuk kemudian bergerak. Mereka meminta adanya kepastian jadwal perbaikan, transparansi anggaran, serta keterlibatan wakil rakyat dalam mendorong percepatan pembangunan jalan kabupaten tersebut.

Bagi masyarakat, jalan Penujak–Bonder bukan sekadar jalur penghubung antar desa, melainkan akses vital yang menentukan roda kehidupan mereka. Jika terus dibiarkan, warga khawatir kerusakan akan semakin parah dan berpotensi menimbulkan korban kecelakaan lebih banyak di masa mendatang.

(Bi)