MATARAM – Peringatan May Day 2026 di depan Kantor Gubernur NTB diwarnai aksi massa yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa dan Rakyat NTB. Massa aksi menegaskan bahwa gerakan yang teratur dan terorganisir adalah bentuk perlawanan atas apa yang mereka sebut sebagai kegagalan rezim Iqbal–Dinda dalam memenuhi hak-hak dasar rakyat.
Baca juga:BRIN Tawarkan Beasiswa S2/S3 Degree by Research untuk Hakim dan Tenaga Teknis Badilum
Dalam aksi tersebut, massa menuntut agar program MBG dihapus dan digantikan dengan kebijakan pendidikan dan kesehatan gratis tanpa syarat. Selain itu, massa juga menyuarakan tuntutan mengenai upah layak, serta mendesak pemerintah menghapus sistem kerja kontrak dan outsourcing yang dinilai merugikan pekerja.
Aksi May Day ini membawa sedikitnya 6 tuntutan nasional dan 15 tuntutan daerah. Beberapa isu daerah yang disoroti antara lain buruknya pelayanan kesehatan dan minimnya infrastruktur di wilayah terpencil, persoalan gaji P3K dan tenaga honorer, serta maraknya kasus PHK sepihak yang kerap menimpa pekerja di Kota Mataram.
Baca:Unhan RI Buka Beasiswa D3 2026, Gratis Biaya Kuliah dan Uang Saku!
Namun, kekecewaan massa memuncak karena aksi tersebut hanya ditemui oleh Sekda NTB, sementara Gubernur dan Wakil Gubernur NTB tidak tampak di lokasi. Massa mempertanyakan keberadaan keduanya dan menilai pemerintah daerah sengaja menghindar dari tuntutan rakyat.
Salah satu orator dari FPMR, Bung Wikas, secara terbuka mengecam sikap Gubernur dan Wakil Gubernur NTB yang tidak berani menemui massa. Ia menyebut tindakan tersebut sebagai bentuk arogansi kekuasaan dan sikap anti-kritik.
“Iqbal–Dinda kerap menghindar dari tuntutan rakyat. Ini sikap arogan dan anti kritik. Mereka adalah wujud rezim anti rakyat,” tegas Wikas dalam orasinya.
Massa aksi yang terdiri dari berbagai elemen gerakan seperti SMI, FPMR, GMN, LMND, BEM FKIP, BEM FISIP UMMAT, dan sejumlah organisasi lainnya mengaku kecewa atas sikap pemerintah daerah. Mereka menyatakan akan menggelar aksi lanjutan pada hari Selasa sebagai bentuk tekanan politik dan keberlanjutan perjuangan.
