SMART-GANGGA UNU NTB Dorong Transformasi Digital Guru SD di Lombok Utara

Avatar of lpkpkntb
Keterangan foto: Foto bersama tim UNU NTB dan guru SD Kecamatan Gangga dalam program SMART-GANGGA.
Foto bersama tim UNU NTB dan guru SD Kecamatan Gangga dalam program SMART-GANGGA. (Dok.Lalu Abdul Azis).

LOMBOK UTARA – Transformasi digital pendidikan tidak cukup hanya dengan menghadirkan teknologi di lingkungan sekolah. Kemampuan guru dalam memilih, mengembangkan, dan memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pembelajaran yang inovatif menjadi bagian penting dalam peningkatan kualitas pendidikan.

Berangkat dari kebutuhan tersebut, tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (UNU NTB) yang diketuai Lalu Abdul Aziz melaksanakan program SMART-GANGGA: Inovasi Pembelajaran STEM Berbasis AI-Gamification untuk Meningkatkan Kompetensi Pedagogik Digital Guru SD di Lombok Utara.

Baca:Gaji Guru dan Dosen Bakal Naik 2027? Ini Dorongan Terbaru dari DPR

Program pengabdian kepada masyarakat yang didukung pendanaan BIMA 2026 ini mengintegrasikan STEM, Artificial Intelligence (AI), dan gamifikasi untuk memperkuat kompetensi pedagogik digital guru SD di Kecamatan Gangga. Dalam pelaksanaannya, sebanyak 20 guru telah mengikuti pelatihan AI dan berhasil dikembangkan 16 produk pembelajaran STEM berbasis AI.

Program SMART-GANGGA dilaksanakan bersama Kelompok Kerja Guru (KKG) SD Kecamatan Gangga, Kabupaten Lombok Utara, sebagai mitra utama dalam upaya memperkuat kompetensi pedagogik digital guru melalui integrasi Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM), Artificial Intelligence (AI), dan gamifikasi.

KKG SD Kecamatan Gangga memiliki 25 anggota aktif yang berasal dari berbagai sekolah dasar di wilayah Kecamatan Gangga. Keberadaan KKG memiliki posisi strategis sebagai ruang bagi guru untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, dan meningkatkan kompetensi profesional. Namun, hasil identifikasi awal menunjukkan pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung inovasi pembelajaran masih perlu diperkuat.

Sekitar 70 persen guru masih dominan menggunakan metode pembelajaran konvensional, sekitar 80 persen belum mampu mengintegrasikan STEM secara komprehensif, dan kurang dari 15 persen telah mengenal atau mengaplikasikan Generative AI untuk mendukung produktivitas mengajar. Kondisi tersebut menjadi dasar pengembangan SMART-GANGGA sebagai program pemberdayaan yang berorientasi pada kebutuhan nyata mitra.

SMART-GANGGA dirancang tidak sekadar sebagai kegiatan pelatihan teknologi. Program menggunakan pendekatan partisipatif melalui lima tahapan, yaitu sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi dan inovasi, pendampingan dan evaluasi, serta penguatan keberlanjutan program.

Dalam pelaksanaannya, guru memperoleh penguatan mengenai konsep pembelajaran STEM, pemanfaatan Generative AI, pengembangan media pembelajaran, hingga penerapan gamifikasi menggunakan berbagai platform digital. Pelatihan dilakukan melalui pendekatan active learning dan hands-on practice, sehingga peserta tidak hanya menerima materi secara teoritis, tetapi langsung mempraktikkan teknologi untuk menghasilkan produk pembelajaran.

“SMART-GANGGA tidak kami arahkan sekadar agar guru mengetahui cara menggunakan AI. Kami ingin guru mampu mengubah teknologi menjadi instrumen pedagogik yang membantu mereka menghasilkan pembelajaran yang lebih kreatif, kontekstual, dan sesuai dengan kebutuhan siswa. Guru tetap menjadi aktor utama, sedangkan AI menjadi alat bantu untuk memperkuat kreativitas dan produktivitasnya,” ujar Lalu Abdul Aziz, Ketua Tim Pelaksana SMART-GANGGA dari UNU NTB.

Pendampingan diberikan mulai dari pemilihan tema pembelajaran, penyusunan aktivitas STEM, pemanfaatan AI dalam pengembangan konten, hingga penyempurnaan produk. Pendekatan tersebut juga memungkinkan guru dengan tingkat penguasaan teknologi yang berbeda memperoleh asistensi sesuai kebutuhannya.

Hasil pelaksanaan program menunjukkan sebanyak 20 guru telah mengikuti pelatihan AI dan 16 produk pembelajaran STEM berbasis AI berhasil dikembangkan. Produk-produk tersebut menjadi bukti bahwa kegiatan tidak berhenti pada transfer pengetahuan, tetapi diarahkan pada kemampuan guru menghasilkan inovasi pembelajaran yang dapat diterapkan di kelas.

Selain meningkatkan kemampuan individu guru, SMART-GANGGA juga diarahkan untuk memperkuat tata kelola pengetahuan di lingkungan KKG melalui pengembangan SMART-GANGGA Cloud Repository.

Repository ini dirancang menjadi perpustakaan digital kolektif yang dapat digunakan untuk menyimpan, mengakses, dan mendistribusikan modul STEM, perangkat pembelajaran, media gamifikasi, serta berbagai produk berbasis AI yang dihasilkan guru.

“Kami ingin produk yang dikembangkan tidak berhenti pada guru yang membuatnya. Melalui SMART-GANGGA Cloud Repository, produk tersebut nantinya dapat menjadi aset bersama KKG, sehingga bisa digunakan, dimodifikasi, dan dikembangkan kembali oleh guru lainnya,” kata Abdul Muttalib selaku anggota pengabdian.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat membangun budaya kolaborasi digital. Produk pembelajaran yang sebelumnya tersimpan secara individual diarahkan menjadi sumber pengetahuan bersama yang dapat memberikan manfaat lebih luas bagi anggota KKG.

Melalui SMART-GANGGA, kolaborasi perguruan tinggi dan komunitas guru diharapkan dapat menghasilkan model pemberdayaan yang tidak berhenti pada kegiatan seremonial maupun pelatihan jangka pendek.

Bagi tim UNU NTB, keberhasilan SMART-GANGGA tidak hanya diukur dari jumlah guru yang mengikuti pelatihan. Keberhasilan juga ditentukan oleh kemampuan mitra untuk menghasilkan, menerapkan, membagikan, dan melanjutkan inovasi secara mandiri.

“Kami berharap SMART-GANGGA dapat menjadi praktik baik bagaimana perguruan tinggi, KKG, sekolah, dan pemerintah daerah dapat berkolaborasi dalam meningkatkan kualitas pendidikan. Tujuan akhirnya bukan sekadar guru mampu menggunakan teknologi, tetapi bagaimana teknologi itu benar-benar memberikan nilai tambah bagi proses belajar siswa,” tutup Lalu Abdul Aziz.

Ke depan, hasil program diharapkan dapat menjadi praktik baik yang berpotensi direplikasi pada KKG dan sekolah dasar lainnya setelah seluruh tahapan implementasi dan evaluasi diselesaikan. Dengan demikian, inovasi yang bermula dari Kecamatan Gangga dapat memberikan kontribusi lebih luas terhadap penguatan kompetensi pedagogik digital guru dan transformasi pendidikan dasar di Kabupaten Lombok Utara.