Bukan Sekadar Praktik Mengajar, Penarikan Mahasiswa PLP UNU NTB di SDN 3 Meninting Penuh Haru dan Pesan Inspiratif

Avatar of lpkpkntb
Keterangan Foto: DPL Hasbi, S.Pd., M.Or., bersama Kepala SDN 3 Meninting Abdul Ahyar, S.Pd.I., guru pamong, dan mahasiswa UNU NTB dalam kegiatan penarikan mahasiswa PLP di SDN 3 Meninting, Lombok Barat.
Keterangan Foto: Dosen Pembimbing Lapangan Hasbi, bersama Kepala SDN 3 Meninting Abdul Ahyar, S.Pd.I., guru pamong, dan mahasiswa UNU NTB dalam kegiatan penarikan mahasiswa PLP di SDN 3 Meninting, Lombok Barat.

LOMBOK BARAT – Suasana haru dan penuh keakraban mewarnai kegiatan penarikan mahasiswa Praktik Lapangan Persekolahan (PLP) Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (UNU NTB) di SDN 3 Meninting, Kabupaten Lombok Barat. Kegiatan ini menandai berakhirnya perjalanan mahasiswa dalam menjalankan praktik dan memperoleh pengalaman mengajar secara langsung di lingkungan sekolah.

Kegiatan penarikan dihadiri Kepala SDN 3 Meninting, Abdul Ahyar, S.Pd.I., guru pamong, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Hasbi, S.Pd., M.Or., serta seluruh mahasiswa peserta PLP.

Dalam sambutannya, Kepala SDN 3 Meninting, Abdul Ahyar, S.Pd.I., menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada mahasiswa UNU NTB yang telah melaksanakan kegiatan PLP di sekolah tersebut.

Baca Juga:NTB Kebijakan Pendidikan Nasional Berdampak Besar bagi Sekolah di NTB, Ini Perubahan yang Terjadi

Menurutnya, kehadiran mahasiswa PLP memberikan pengalaman dan kontribusi positif bagi lingkungan sekolah. Selain membantu aktivitas pembelajaran, mahasiswa juga mendapatkan kesempatan untuk mengenal lebih dekat karakter peserta didik serta dinamika kehidupan sekolah.

Dalam kesempatan tersebut, Abdul Ahyar juga berbagi cerita mengenai perjalanan pendidikannya. Ia menceritakan pengalamannya sejak menempuh pendidikan di Sekolah Guru Olahraga (SGO) hingga menjadi alumni salah satu pondok pesantren di Nusa Tenggara Barat (NTB).

Pengalaman perjalanan pendidikan tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk karakter, kedisiplinan, dan tanggung jawabnya sebagai seorang pendidik.

Ia menekankan bahwa perjalanan menjadi guru membutuhkan proses panjang, pengalaman, serta kemauan untuk terus belajar. Menurutnya, profesi guru bukan hanya tentang menyampaikan ilmu pengetahuan, tetapi juga memberikan keteladanan dan menanamkan nilai-nilai kehidupan kepada peserta didik.

Ia berharap mahasiswa dapat mengambil pelajaran dari pengalaman selama PLP dan menjadikannya sebagai bekal untuk mempersiapkan diri menjadi pendidik yang profesional.

Sementara itu, Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Hasbi, S.Pd., M.Or., menyampaikan terima kasih kepada kepala sekolah, guru pamong, dan seluruh keluarga besar SDN 3 Meninting atas penerimaan, pendampingan, serta bimbingan yang telah diberikan kepada mahasiswa selama menjalankan PLP.

Menurut Hasbi, PLP bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik, tetapi menjadi bagian penting dalam membentuk kompetensi calon guru melalui pengalaman nyata di lapangan.

“Mahasiswa tidak cukup hanya memahami teori yang diperoleh di bangku perkuliahan. Mereka juga harus mampu mengimplementasikan pengetahuan tersebut dalam situasi pembelajaran yang sesungguhnya. Di sinilah pentingnya PLP sebagai ruang belajar, beradaptasi, dan mengembangkan profesionalitas,” ungkap Hasbi.

Keterangan Foto: Penyerahan cinderamata dari DPL kepada Kepala SDN 3 Meninting, didampingi guru pamong.
Keterangan Foto: Penyerahan cinderamata dari DPL kepada Kepala SDN 3 Meninting, didampingi guru pamong.

Ia menambahkan, tantangan pendidikan saat ini semakin kompleks. Perkembangan teknologi dan perubahan karakteristik peserta didik menuntut calon guru memiliki kemampuan beradaptasi, kreativitas, serta pendekatan pembelajaran yang lebih inovatif.

Hasbi juga mengingatkan bahwa guru tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, tetapi memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter generasi penerus bangsa.

Karena itu, mahasiswa PLP diharapkan tidak hanya berorientasi pada kemampuan mengajar, tetapi juga mampu membangun kedisiplinan, tanggung jawab, etika, dan keteladanan sebagai calon pendidik.

“Jaga nama baik almamater. Pengalaman yang kalian dapatkan di SDN 3 Meninting ini harus menjadi bekal berharga. Jadikan setiap tantangan selama PLP sebagai proses pendewasaan diri untuk menjadi calon pendidik profesional,” pesannya.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan guru pamong Hermansyah, S.Pd. turut menyampaikan pandangannya mengenai tantangan pendidikan dalam mendampingi generasi saat ini, khususnya Generasi Alfa.

Menurutnya, tugas guru tidak cukup hanya mengajarkan peserta didik membaca, menulis, dan berhitung. Lebih dari itu, guru harus memastikan anak mampu memahami informasi, mengembangkan kemampuan berpikir, serta memiliki karakter yang baik.

Mengutip pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang hakikat pendidikan, guru pamong menekankan pentingnya pendidikan yang tidak hanya berorientasi pada pengetahuan, tetapi juga pembentukan budi pekerti.

“Anak-anak sekarang, khususnya Generasi Alfa, menghadapi tantangan yang berbeda dengan generasi sebelumnya. Mereka bisa membaca, tetapi belum tentu mampu memahami secara mendalam apa yang dibaca. Ini menjadi tantangan kita bersama, bagaimana membangun kemampuan literasi sekaligus membentuk karakter mereka,” ungkapnya.

Ia menilai penguatan karakter menjadi tanggung jawab bersama antara guru, orang tua, dan lingkungan pendidikan. Nilai kejujuran, kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian, serta rasa hormat harus terus ditanamkan sejak dini.

Karena itu, mahasiswa PLP diharapkan dapat mengambil pelajaran bahwa menjadi guru bukan hanya tentang berdiri di depan kelas dan menyampaikan materi, melainkan juga menjadi teladan bagi peserta didik.

Sebelum rangkaian kegiatan berakhir, Ketua Kelompok PLP Usratul Auni menyampaikan laporan pelaksanaan kegiatan selama mahasiswa berada di SDN 3 Meninting.

Dalam laporannya, ia menyampaikan bahwa PLP memberikan pengalaman berharga bagi seluruh anggota kelompok, mulai dari pengenalan lingkungan sekolah, observasi pembelajaran, penyusunan perangkat pembelajaran, praktik mengajar, hingga keterlibatan dalam berbagai aktivitas sekolah.

Selama pelaksanaan kegiatan, mahasiswa juga menghadapi berbagai tantangan, seperti menyesuaikan diri dengan budaya sekolah, memahami karakter peserta didik yang beragam, mengelola kelas, serta membangun komunikasi dengan guru dan seluruh warga sekolah.

Namun, melalui arahan guru pamong dan bimbingan DPL, berbagai pengalaman tersebut menjadi proses pembelajaran yang membantu mahasiswa meningkatkan kemampuan dan kesiapan sebagai calon pendidik.

Atas nama seluruh anggota kelompok, ketua kelompok menyampaikan terima kasih kepada kepala sekolah, guru pamong, dewan guru, dan DPL yang telah memberikan dukungan serta pendampingan. Ia juga menyampaikan permohonan maaf apabila selama menjalankan PLP terdapat perkataan maupun perilaku yang kurang berkenan.

Suasana haru semakin terasa ketika salah satu perwakilan mahasiswa PLP, Nurul, membacakan kata-kata perpisahan mewakili seluruh rekan-rekannya. Dan di tutup doa.