Pusat Studi Kebudayaan UNU NTB Koordinasikan Persiapan FMTI 2026 dengan Dinas Kebudayaan NTB

Keterangan foto: Pusat Studi Kebudayaan UNU NTB berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB Muhammad Ihwan, S.Sos., M.Si., dan jajaran dalam rangka persiapan Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026 di Nusa Tenggara Barat.
Keterangan foto: Pusat Studi Kebudayaan UNU NTB berkoordinasi dengan Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB Muhammad Ihwan, S.Sos., M.Si., dan jajaran dalam rangka persiapan Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026 di Nusa Tenggara Barat.

MATARAM — Persiapan Festival Musik Tradisi Indonesia (FMTI) 2026 di Nusa Tenggara Barat mulai memasuki tahap koordinasi antarlembaga. Pusat Studi Kebudayaan Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat (UNU NTB), yang menjadi mitra lokal kegiatan tersebut, berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan Provinsi NTB menjelang rencana penyelenggaraan pada Desember 2026.

Baca:PLP UNU NTB Tersebar di 29 Sekolah, SDN 3 Meninting Lombok Barat Jadi Salah Satu Lokasi

Koordinasi dilakukan bersama Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi NTB, Muhammad Ihwan, S.Sos., M.Si., beserta jajaran Dinas Kebudayaan Provinsi NTB. Pertemuan tersebut membahas sejumlah kebutuhan awal penyelenggaraan, mulai dari sinkronisasi agenda, kemungkinan lokasi kegiatan, keterlibatan pemerintah daerah, publikasi, jejaring pemangku kepentingan, hingga bentuk dukungan yang dapat dikembangkan bersama.

Dalam pertemuan itu, Dinas Kebudayaan Provinsi NTB menyampaikan dukungan terhadap proses persiapan dan koordinasi FMTI 2026 di NTB. Dukungan tersebut terutama diarahkan pada penguatan komunikasi antarlembaga, sinkronisasi dengan agenda kebudayaan daerah, serta fasilitasi koordinasi dengan berbagai pihak yang relevan.

Pusat Studi Kebudayaan UNU NTB dalam penyelenggaraan FMTI 2026 berperan sebagai mitra lokal, terutama dalam menghubungkan program nasional dengan ekosistem kebudayaan yang berkembang di NTB.

Meski demikian, sejumlah aspek penyelenggaraan pada tahap awal ini masih dalam proses pembahasan dan belum ditetapkan secara final.

Sejalan dengan proses persiapan tersebut, Pusat Studi Kebudayaan UNU NTB juga mengembangkan Sangkep Gending sebagai konsep lokal yang diharapkan dapat memberikan karakter tersendiri dalam penyelenggaraan FMTI di NTB.

Konsep tersebut membawa tagline “Bunyi Bersua, Harmoni Bertumbuh.”

Sangkep merepresentasikan ruang pertemuan, dialog, dan musyawarah. Sementara gending merujuk pada ekspresi musikal yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat.

Karena itu, Sangkep Gending dirancang sebagai gagasan yang mempertemukan pelaku musik tradisi, komunitas, pemerintah, akademisi, generasi muda, serta berbagai unsur pendukung kebudayaan.

Pada tahap koordinasi ini, konsep tersebut masih terus dikembangkan seiring dengan pembahasan kebutuhan teknis dan substansi program.

FMTI 2026 di NTB sementara diarahkan berlangsung pada 5–7 Desember 2026. Sejumlah bentuk kegiatan yang sedang dibahas antara lain seminar kebudayaan dan musik tradisi, pertunjukan, apresiasi terhadap pelaku kebudayaan, serta kunjungan kebudayaan.

Namun, format, lokasi, susunan acara, penampil, narasumber, dan rincian teknis lainnya masih memerlukan pembahasan lebih lanjut.

Koordinasi juga diperlukan untuk memastikan jadwal kegiatan dapat diselaraskan dengan agenda Pemerintah Provinsi NTB pada periode yang sama.

Pentingnya kolaborasi antara penyelenggara, pemerintah daerah, komunitas, perguruan tinggi, pelaku seni, dan pemangku kepentingan lainnya menjadi salah satu hal yang turut menjadi perhatian dalam pertemuan tersebut.

Pusat Studi Kebudayaan UNU NTB memandang koordinasi sejak awal diperlukan agar FMTI tidak berjalan sebagai kegiatan yang terpisah dari ekosistem kebudayaan daerah.

Dukungan Dinas Kebudayaan Provinsi NTB diharapkan dapat memperkuat proses komunikasi dengan perangkat daerah dan pemangku kepentingan lain sesuai kebutuhan penyelenggaraan.

Selain itu, keterlibatan sumber daya lokal juga menjadi salah satu isu yang dibahas. Apabila memungkinkan, kebutuhan teknis dan pendukung kegiatan diharapkan dapat melibatkan pelaku, pekerja kreatif, komunitas, serta penyedia jasa yang berada di NTB.

Koordinasi tersebut menjadi bagian dari tahap awal persiapan FMTI 2026 di NTB. Setelah pertemuan itu, panitia lokal masih akan melanjutkan pembahasan dengan tim pusat dan berbagai pihak terkait untuk mematangkan aspek substansi maupun teknis kegiatan.

Sejumlah keputusan penting, termasuk lokasi, bentuk rangkaian kegiatan, daftar penampil, narasumber, dan mekanisme keterlibatan berbagai pihak, akan ditetapkan melalui proses koordinasi selanjutnya.

Pusat Studi Kebudayaan UNU NTB berharap proses tersebut dapat menghasilkan penyelenggaraan FMTI yang tidak hanya menghadirkan pertunjukan musik tradisi, tetapi juga memperkuat ruang pertemuan dan kolaborasi kebudayaan di NTB.

Semangat tersebut dirangkum melalui gagasan Sangkep Gending: “Bunyi Bersua, Harmoni Bertumbuh.”