BEDAH BUKU Siapa Datoq Nyatoq? Novel Karya Prof Nuriadi Dikupas di UNU NTB

Avatar of lpkpkntb
Siapa Datoq Nyatoq? Novel Karya Prof Nuriadi Dikupas di UNU NTB
Siapa Datoq Nyatoq? Novel Karya Prof Nuriadi Dikupas di UNU NTB

MATARAM, – Sebuah novel tidak hanya menghadirkan cerita, tetapi juga dapat menjadi ruang untuk membaca sejarah, budaya, dan identitas sebuah masyarakat.

Hal itu tergambar dalam kegiatan bedah buku novel Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu? karya Prof. Dr. H. Nuriadi, S.S., M.Hum., yang digelar Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB, Rabu (12/8/2026).

Baca:Rektor UNU NTB: Guru dan Dosen Bukan Sekadar Pekerjaan, tetapi Panggilan Jiwa

Kegiatan yang berlangsung di Ballroom Atqia UNU NTB tersebut menghadirkan sejumlah akademisi untuk mengupas karya sastra yang menarik perhatian karena membawa latar dan nilai-nilai lokal Sasak.

ChatGPT Image 12 Agu 2026 11.43.59

Diskusi dipandu Dr. Ahmad Fauzan, S.Th., M.A., Wakil Rektor I UNU NTB, yang menjadi moderator dalam kegiatan tersebut.

Sementara para pembedah yakni Dr. Hj. Baiq Mulianah, M.Pd., Rektor UNU NTB; Prof. Adi Fadly, M.A., ahli sufisme dan sejarah Islam Sasak; serta Muh. Syahrul Qodri, M.A., ahli sastra.

Adapun Prof. Dr. H. Nuriadi, S.S., M.Hum. hadir sebagai penulis untuk menjelaskan gagasan serta latar belakang lahirnya novel tersebut.

Ketika Sastra Menjadi Cermin Budaya

Judul Datoq Nyatoq, Engkaukah Itu? menghadirkan pertanyaan yang sekaligus mengundang rasa ingin tahu pembaca. Siapa sosok Datoq Nyatoq dan kisah apa yang dibangun di baliknya?

Pertanyaan tersebut menjadi bagian menarik dalam forum bedah buku. Novel tidak hanya dibaca sebagai sebuah cerita, tetapi juga dapat dilihat sebagai medium untuk memahami budaya, sejarah, nilai, dan identitas masyarakat Sasak.

Kehadiran akademisi dengan latar keilmuan berbeda membuat diskusi semakin kaya. Sastra bertemu dengan kajian sufisme, sejarah Islam Sasak, serta perspektif kebudayaan.

Di tengah perubahan zaman dan derasnya budaya populer, karya sastra yang mengangkat kearifan lokal memiliki arti penting. Sebab, melalui cerita, nilai dan ingatan budaya dapat terus diperkenalkan kepada generasi berikutnya. Bedah buku di UNU NTB ini pun tidak berhenti pada pembahasan sebuah novel.

Forum tersebut menjadi ruang untuk membaca kembali identitas Sasak melalui sastra tentang siapa kita, dari mana kita berasal, dan bagaimana sebuah budaya diwariskan melalui cerita.